
2026|Alumunium, Stainless Steel, Senar, Kawat, Mur, dan Baut|320 x 200 cm
Karya ini merupakan manifestasi artistik yang mengeksplorasi titik temu antara derasnya arus informasi digital dan kedalaman kesadaran spiritual manusia. Di era kontemporer seperti saat ini, kita hidup dalam limpahan data imaterial yang diproduksi tanpa henti namun sering kali tak berwujud jejaknya. Melalui karya instalasi ini, saya berupaya untuk melepas batas antara realitas digital yang abstrak dan kebutuhan naluriah manusia akan pijakan spiritual yang esensial. Penggunaan plat aluminium yang diolah dengan teknik goresan manual—serupa dengan teknik drypoint pada seni grafis—menjadi representasi terhadap fenomena digital yang terjadi saat ini. Jika dunia digital bekerja melalui algoritma secara tersembunyi dan efisien, maka goresan drypoint di atas plat ini adalah bentuk intervensi raga yang intuitif dan sakral. Goresan tersebut mewakili "bekas luka kesadaran" dari vibrasi spiritual yang tidak mampu ditangkap oleh pixel digital. Teknik ini seolah mengubah aluminium yang berkarakter dingin menjadi sebuah "arsip energi" yang menyimpan resonansi antara tangan manusia dan frekuensi yang tak kasatmata. Jaringan kawat senar yang membentang dari pusat plat menuju bola-bola stainless steel merepresentasikan transmisi energi nirkabel yang dipersonifikasi secara fisik. Kawat ini bertindak sebagai jalur saraf atau "tali ruh" yang menghubungkan pusat persepsi dengan titik-titik energi semesta dalam Energy Chart pada setiap manusia. Bola-bola stainless steel di ujung kawat berfungsi sebagai simpul-simpul konstelasi spiritual; mereka adalah wujud fisik dari data dan frekuensi yang telah "mendarat" dan menemukan bentuknya di dunia nyata. Karya ini berusaha menciptakan sebuah ruang-antara bagi publik untuk menyadari bahwa meski interaksi kita berpindah ke ranah digital, kita tetap membutuhkan "kompas" visual yang berwujud sebagai sandaran realitas. Perpaduan antara tarikan senar yang tegang, bola-bola yang statis, dan goresan drypoint yang organik mengukuhkan keyakinan bahwa hidup adalah jalinan resonansi yang saling bertaut. Pada akhirnya, karya ini adalah undangan untuk membangkitkan kesadaran, di mana setiap perjumpaan spiritual akan selalu meninggalkan bekas permanen dalam jaringan makna yang lebih luas.
Bayu Putra Pratama lahir di Bandung pada tahun 1994. Pada tahun 2017, ia meraih gelar Sarjana Seni Rupa (Studio Seni Grafis) dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Bayu telah berpartisipasi dalam berbagai pameran dan ajang seni penting, di antaranya meraih Juara Pertama Open Call Media Art Globale Quantum Land (2020), berpartisipasi dalam Nuanu Nowhere, Now Here II (2024), serta masuk dalam Top 15 Finalis Finna Art of the Year (2025) di Orasis Art Space, Surabaya. Dalam praktik berkaryanya, Bayu kerap menggabungkan beragam karakteristik material sebagai medium utama. Melalui eksplorasi material tersebut, ia berupaya memvisualisasikan hal-hal yang tidak kasatmata, termasuk bunyi-bunyi organik, dengan mengembangkan mekanisme sederhana untuk menciptakan komposisi yang kompleks. Pendekatan ini memungkinkan material yang digunakan menampilkan potensi dan karakter uniknya secara maksimal. Tema-tema yang sering hadir dalam karyanya berkaitan dengan kesadaran diri, refleksi personal, dan upaya memahami pengalaman hidup melalui proses artistik. Selain berkarya di ranah seni rupa, Bayu juga mengembangkan proyek musik eksperimental bernama GURU. Kelompok ini mengusung konsep pertunjukan situasional dan eksplorasi bunyi sebagai praktik musikalnya. GURU pernah menggelar konser tunggal di GoetheHaus, Goethe-Institut Jakarta, pada tahun 2019 dan tampil dalam program Jamming Session di Museum MACAN pada Juli 2025. Saat ini, selain aktif berpameran, Bayu sedang menempuh studi Magister Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB).