
2026|Cat Enamel Pada Kuningan|50 x 35 x 25 cm
Karya ini menghadirkan keluhan sehari-hari sebagai suara frustrasi generasi masa kini. Teks-teks tersebut dilukis pada lembaran plat yang diremas, menyerupai mimpi yang telah dibuang, lalu dibuka kembali untuk memperlihatkan harapan yang masih tersisa. Permukaan hitam melambangkan gelapnya jalan menuju narasi “Indonesia Emas”, sementara lapisan emas yang tersembunyi di baliknya menjadi simbol mimpi yang terus terkubur oleh kenyataan, namun tak pernah benar-benar hilang. Panah-panah yang menancap di sekeliling karya menjadi metafora bagi persoalan-persoalan klasik yang terus menghambat kemajuan futuristik. Korupsi, birokrasi, ketimpangan, dan lemahnya keadilan digambarkan sebagai hambatan yang tak pernah benar-benar selesai. Karya ini mempertanyakan bagaimana masa depan dapat terwujud jika mimpi akan kemajuan terus diserang oleh masalah yang sama.
Nurrachmat Widyasena yang dikenal sebagai Mas Ito lulus dari Jurusan Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Ia mengembangkan praktik artistik yang mengeksplorasi retro-futurisme, mempertemukan realitas dan fantasi melalui narasi yang mengangkat sains, teknologi, dan kritik sosial. Dalam seri Fighter #3, Mas Ito menghadirkan sosok-sosok heroik sebagai metafora bagi ilmuwan dan pelaku teknologi yang menghadapi tekanan birokrasi, kepentingan politik, dan kekuasaan. Melalui figur-figur futuristik yang terluka namun tetap tegak berdiri, ia merefleksikan ketangguhan, pengorbanan, dan harapan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan demi kehidupan yang lebih baik. Sejak 2009, Mas Ito aktif berpameran di Indonesia dan mancanegara (solo dan duo). Pameran tunggalnya antara lain Nostaljik Kritik: Operasi Taimket di Ruci Art, Jakarta, serta After Einstein Rosen Bridge di The Bluecoat, Liverpool (2019), Patriotic Myth of Space Age, Bandung (2013). Sementara itu pameran bersama, antara lain L’Art Pour La Vie, Yogyakarta (2026), Indonesia, Salon Et Cetera, Yogyakarta (2026), Indonesia, Tiba Tanpa Berangkat with Maharani Mancanagara, Indonesia (2025), Space, Time, Movement with Septian Hariyoga, Semarang (2022) dan Detournement with Maharani Mancanagara, Jakarta (2014). Ia meraih Young Artist Award pada ARTJOG 2021 dan menjadi finalis 32 Art Award pada tahun yang sama. Selain itu, ia mengikuti program residensi seniman di Liverpool (2018) dan Kaohsiung, Taiwan (2024), yang memperluas jejaring dan pengembangan praktik artistiknya.