
2026|Arang di Atas Kertas (Kertas Hand-cut)|212 x 5 x 44 cm
Menyelimuti pohon dengan kain, memberi mitos pada suatu tempat atau hutan, Menandai bagian tertentu dari sebuah mushala untuk kelompok tertentu, Membuat pagar di sekitar mata air, Menceritakan arus air yang berputar dibawah jembatan, dan banyak lainya. Menaruh tanda, larangan, cerita, atau ritual pada suatu yang bagi generasi setelahnya mungkin hanya tampak sebagai benda, tempat atau kebiasaan. Praktik-praktik semacam ini muncul dalam berbagai bentuk dan di berbagai tempat. Bentuknya berbeda, tapi memiliki pola yang hampir sama. Manusia memberi tanda pada suatu yang memiliki nilai, kekuatan, batas atau makna tertentu. Di dalam praktik tersebut terdapat cara pengetahuan diwariskan. Para leluhur tidak selalu meninggalkan pengetahuan dalam bentuk teks atau intruksi yang eksplisit. Sebagian justru disampaikan dalam Bahasa simbol, pantangan, cerita, kebiasaan dan cara memperlakukan alam. Seolah-olah terdapat pesan yang sengaja dibuat tidak selesai, agar generasi berikutnya terus membaca, menafsirkan, dan menemukan kembali maknanya. Karya ini berangkat dan meminjam dari jejak-jejak tersebut, dari cara manusia memberi tanda, mengikat makna, membatasi dan melindunggi. Namun karya ini tidak bermaksud meromantisasi masa lalu, menjadikan tradisi sebagai tameng, ataupun berkendara diatas nostalgia tentang hubungan manusia dan alam. Sebaliknya, karya ini menggunakan Kembali simbol tersebut untuk mempertanyakan kondisi manusia hari ini. Apa yang kita tandai Ketika hutan ditebang ? Apa bentuk ritual baru Ketika Sungai dialihkan, sebuah gunung dikeruk, atau sebuah wilayah ekologis diubah menjadi komoditas? Dan jika leluhur menggunakan simbol untuk meninggalkan pesan bagi generasi mendatang, simbol seperti apa yang kita tinggalkan setelah kehancuran di depan mata? Karya ini membayangkan sebuah ruang diantara sisa, tanda, dan kemungkinan. Material, bentuk, suara, Cahaya, serta struktur di dalamnya tidak hanya berfungsi sebagai representasi dari sesuatu yang telah hilang, tetapi sebagai fragmen dari sebuah sistem yang sedang berubah. Ia seperti artefak dari masa depan yang sepenuhnya belum dipahami. Sesuatu yang mungkin merupakan peninggalan, peringgatan atau bahkan kehidupan yang baru. Kehancuran dalam karya ini tidak ditempatkan sebagai akhir yang dramatis. Ia justru diperlakukan sebagai kondisi. Ketika sesuatu telah dihancurkan, pertanyaan berikutnya bukan apa yang telah hilang, tetapi apa saja yang kemudian muncul dari kehancuran tersebut? Apakah kehidupan akan Kembali dalam bentuk yang sama? Atau apakah ia muncul sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda? Disinilah karya bergerak dari nostalgia menjadi spekulasi. Dari mitos menuju kemungkinan. Dari alam yang diwariskan menjadi alam yang sedang diproduksi ulang. Pada akhirnya, karya ini tidak menawarkan jawaban tentang bagaimana manusia memperlakukan alam. Ia lebih memilih meninggalkan tanda, seperti tanda-tanda yang ditinggalkan leluhur, namun kali ini tanda tersebut berasal dari zaman yang berbeda, zaman Ketika batas antara alam dan teknologi semakin kabur, dan Ketika manusia menyadari bahwa ia tak sepenuhnya mengendalikan system kehidupan. Mungkin karya ini adalah sebuah pesan. Mungkin sebuah peringgatan. Atau mungkin, ia adalah tanda pertama dari sesuatu yang akan hidup setelah kita.
Herman Priyono menempuh pendidikan di Program Studi Seni Murni, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan sejak masa studinya aktif mengembangkan praktik artistik yang memadukan penguasaan teknik drawing tradisional dengan eksplorasi gagasan yang berakar pada pengalaman personal, memori, dan refleksi terhadap realitas sosial. Pada 2021, ia memperoleh penghargaan 5 Best Artwork dalam AKSY ARTSY di R.J. Katamsi, ISI Yogyakarta. Praktik artistik Herman berfokus pada medium drawing dengan menggunakan arang (charcoal) dan tinta sebagai material utama. Terinspirasi tradisi surealisme, ia menjadikan bahasa visual untuk menghubungkan alam bawah sadar, pengalaman hidup, serta berbagai persoalan kehidupan kontemporer. Sejak 2015, karya-karyanya telah dipresentasikan dalam berbagai pameran di Indonesia maupun luar negeri, termasuk ARTJOG MMXXII: Expanding Awareness, The Wounds That No One Can See di Bali, ART COURT di Jakarta, Filling the Void di Palm Springs, California, Habitus Loci di Jakarta, serta sejumlah pameran di Yogyakarta, Bandung, dan Surakarta.