
2026|Kulit Sapi dan LED Lamp|85 x 70 x 80 cm
Karya ini menghadirkan bentuk “closet duduk” sebagai metafora ambang ruang transisi antara dunia yang terlihat dan yang tak terlihat. Material kulit sapi dipilih karena merepresentasikan batas fisik tubuh manusia: rapuh, terluka, namun tetap melindungi. Cahaya yang muncul dari dalam mengubah kulit menjadi ruang hening yang mengarah pada dunia sebrang. Lekukan kulit yang jatuh, robekan alami, dan ujung-ujung tajam menjadi simbol bahwa proses menyeberang tidak pernah mulus. Bentuk closet yang intim dan dekat dengan tubuh diolah menjadi bentuk organik dan ambigu, menghadirkan pengalaman kontemplatif tentang batas, kerentanan, serta perjalanan manusia menuju ruang kesadaran yang lain.
I Gede Sukarya mengembangkan praktik artistiknya melalui seni tatahan kulit sapi, sebuah teknik tradisional yang berakar pada pembuatan wayang kulit Bali. Tumbuh di Desa Bulian, ia dibesarkan dalam lingkungan yang kaya akan tradisi lokal, terutama nilai-nilai Bulugeles, yang membentuk cara pandangnya terhadap seni, budaya, dan kehidupan sejak usia dini. Ketertarikannya pada dunia seni telah muncul sejak masa kanak-kanak, namun baru pada 2018 ia mulai secara serius mendalami tatahan kulit sebagai medium utama ekspresi artistiknya. Berangkat dari kekayaan visual dan filosofi wayang kulit Bali, Sukarya mengembangkan pendekatan yang memadukan keterampilan tradisional dengan sensibilitas seni kontemporer. Melalui teknik tatah yang presisi, ia mengolah kulit sapi menjadi karya-karya yang tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menghadirkan refleksi mengenai identitas budaya, spiritualitas, hubungan manusia dengan alam, serta perubahan sosial. Baginya, tradisi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sumber pengetahuan yang terus dapat ditafsirkan ulang sesuai dengan konteks zaman. Karya-karyanya telah dipresentasikan dalam berbagai pameran di Indonesia maupun internasional, termasuk Art Jakarta, Art Jakarta Gardens, Art & Bali, Museum Pasifika, Museum Puri Lukisan, Selasar Sunaryo Art Space, serta J+ Art Awards x Study: OKIAF di Osaka, Jepang. Ia juga menggelar pameran tunggal Skin and Shadow (2022) dan Shadow Carving (2025). Sukarya tercatat sebagai finalis Grey Award, Basoeki Abdullah Art Award, J+ Art Awards, dan Surabaya Art Prize.