
2026|Akrilik di Atas Kanvas|140 x 130 cm
Karya ini berangkat dari cari aku mengingat kembali perjalanan ke Bromo, sebuah tempat yang memantik berbagai rasa campur aduk saat dihadapkan pada kontradiksi sensasi ekstrem antara dingin yang menusuk, sengatan panas, hingga atmosfer yang gersang. Rasa takjub yang luar biasa itulah yang membuat aku berhasrat untuk merangkai kembali dan menyusun ulang segala hal yang tertangkap sebagai pesona optik sepanjang perjalanan. Di sini, aku berupaya mengulang kembali penggalan-penggalan pengalaman estetis yang sempat terlewati. Fragmen-fragmen ingatan tersebut aku wujudkan ke dalam satu bentuk visual yang berkaitan dengan trust memory yang sengaja dibuat saling tindih-menindih. Pendekatan tumpang-tindih ini aku pilih dalam proses perupaan karena menyadari bahwa kelebatan memori tidak pernah datang secara utuh, melainkan hadir dalam potongan-potongan yang saling berkelindan. Melalui visual yang berlapis dan tumpang-tindih ini, aku ingin menghadirkan sebuah ruang perenungan tentang bagaimana pesona optik ditangkap, mengingat kembali rasa yang sempat hadir, serta merayakan kelebatan memori yang tersisa dari perjalanan tersebut
Isa Ansory telah aktif berpameran sejak awal 1990-an, ketika masih menempuh pendidikan di Program Studi Seni Rupa IKIP Malang. Sejak awal kariernya, ia secara konsisten mengeksplorasi hubungan antara manusia, lingkungan, dan dinamika sosial melalui bahasa visual yang reflektif. Bagi Isa, seni merupakan ruang kontemplasi yang mempertemukan pengalaman personal dengan persoalan-persoalan universal, seperti krisis ekologis, identitas, dan kegelisahan terhadap masa depan. Perjalanan estetiknya memperlihatkan perkembangan yang khas, dari pendekatan realisme-fotografis menuju pseudo-realisme yang lebih ekspresif. Melalui pengolahan bentuk, warna, dan tekstur, ia membangun ruang metaforis yang tidak lagi berupaya merepresentasikan realitas secara langsung, tetapi merekonstruksinya menjadi pengalaman visual yang memadukan imajinasi, ingatan, dan emosi. Pendekatan tersebut menghasilkan karya-karya yang mengundang penonton untuk merefleksikan hubungan manusia dengan dunia yang terus berubah. Sejak pameran tunggal What a Doll!!! di Canna Gallery, Jakarta (2010), Isa terus berpartisipasi dalam berbagai pameran penting di Indonesia maupun mancanegara, termasuk Art Expo Malaysia, CP Biennale, Selasar Sunaryo Art Space, ARTSUBS, Semarang Gallery, serta pameran di Singapura dan Vietnam. Pada 2020, ia menerima Penghargaan Seniman Jawa Timur dari Dewan Kesenian Jawa Timur sebagai apresiasi atas kontribusinya terhadap perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia.