
2026|Tinta pada Limbah Plastik|80 x 70 cm
Born to Be My Son merefleksikan kelahiran sebagai paradoks: setiap kehidupan baru tidak pernah lahir ke dunia yang kosong, melainkan mewarisi sejarah, kematian, dan konsekuensi dari generasi sebelumnya. Figur bayi menjadi simbol harapan, sementara tengkorak, hewan, bunga, dan tubuh-tubuh yang saling bertumpuk merepresentasikan siklus kehidupan yang tak terpisahkan dari kefanaan. Melalui kolase berbagai fragmen visual, karya ini menghapus batas antara manusia, alam, dan kematian. Tidak ada yang benar-benar dominan; semuanya saling membentuk dan saling mewarisi. Kelahiran bukanlah awal yang murni, dahulu ada. Judul Born to Be My Son mengajak kita merefleksikan makna menjadi orang tua: apakah menghadirkan kehidupan berarti memberi masa depan, atau sekaligus mewariskan dunia yang penuh luka? Di antara harapan dan kecemasan itulah karya ini berdiri-sebagai renungan tentang cinta, tanggung jawab, dan warisan antargenerasi.
Haidar Amar saat ini menempuh studi di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB). Praktik artistiknya berangkat dari pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari, struktur budaya, serta hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya. Melalui pendekatan yang berbasis riset dan eksplorasi material, Haidar memanfaatkan berbagai medium, seperti limbah, seni grafis, media digital, dan lukisan, untuk mengeksplorasi isu-isu ekologi, perubahan sosial, dan cara manusia memandang alam maupun dirinya sendiri. Bagi Haidar, seni bukan sekadar menghasilkan karya visual, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun pengetahuan, refleksi, dan dialog. Oleh karena itu, setiap proses penciptaannya didasarkan pada penelitian, pengembangan gagasan, serta keterlibatan dengan konteks sosial yang melingkupi karyanya. Selain berkarya di studio, ia juga aktif dalam penulisan, riset, dan berbagai kolaborasi yang mempertemukan praktik seni dengan wacana publik dan kajian lintas disiplin. Karya-karya Haidar telah dipamerkan dalam sejumlah pameran, antara lain UTOPIA dan IMPRESSION di 2Madison Jakarta (2024), ART EDU CARE #15: Feel the Same, serta ART SURA di Surakarta (2025). Pada tahun 2026, ia dipercaya sebagai Asisten Kurator Museum Tumurun untuk proyek kuratorial bersama Hendra Himawan.