
2026|Limbah Plastik dan Metal|700 x 700 x 250 cm
Cakra manggilingan adalah sebuah konsep Jawa, metafora bagi siklus hidup yang berputar layaknya roda, bahwa hidup kadang berada di bawah dan kadang di atas, silih berganti, tanpa henti. Cakra berarti roda; dan manggilingan, berputar. Konsep ini bisa dibawa ke dalam konteks siklus alam, yang sebenarnya berlangsung terus-menerus dan berputar membentuk lingkaran yang “bundar sempurna”. Instalasi kolaboratif karya andyrahman architect menggambarkan lingkaran siklus alam dan bagaimana aktivitas (baca: keserakahan) manusia justru menimbulkan “rengkah” atau “pecah” yang terbuka menganga karena eksploitasi alam yang berlebihan tak terkendali, merusak siklus yang sudah ribuan bahkan jutaan tahun berlangsung. Siklus itu kini tak lagi bundar sempurna, ada rengkahan yang di sini bisa menjadi refleksi lebih dalam bagi kita manusia: “Mau membuat rengkah itu makin lebar karena rusaknya lingkungan, atau mau mengembalikan agar bisa bundar lagi sebagai harmoni baru antara manusia dan alam?” Sebagai wujud konsistensi pada konsep cakra manggilingan tersebut, maka material yang dipakai oleh Andy Rahman pada instalasi ini adalah material yang ramah lingkungan. Yakni dengan menggunakan bata, yang terinspirasi dari warisan tradisi bata dan terakota Majapahit di Trowulan dan sekitarnya. Namun, yang digunakan di sini bukan bata tanah liat bakar, melainkan “bata baru” dengan bahan baku limbah PVC. Ini adalah upaya untuk belajar meminimalisasi kerusakan pada bumi kita, belajar untuk menghormati dan menjaga lingkaran siklus alam agar tetap berputar dalam lingkaran cakra manggilingan. Ketika pameran instalasi ini selesai, bata-bata plastik dari limbah PVC ini tidak dibuang, tapi dibongkar dengan hati-hati agar bisa digunakan untuk keperluan yang lain lagi, di waktu yang berbeda bahkan di tempat yang juga berbeda. Ya, material yang diputar kembali agar tidak menyisakan sampah yang berpotensi menimbulkan polusi yang membebani bumi. Siklus semesta. Jagad yang terus berputar. Cakra Manggilingan. —Andy Rahman

Sidoarjo • Indonesia
Ar. Andy Rahman, IAI, berkarya melalui pendekatan desain yang mengintegrasikan material lokal, tradisi konstruksi, dan pengetahuan kerajinan Nusantara. Lulusan Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada tahun 2004 ini mendirikan biro arsitekturnya sendiri dan mengembangkan praktik profesional yang berangkat dari dialog antara arsitektur, budaya, dan lingkungan. Dalam setiap proses perancangannya, Andy menempatkan para perajin sebagai mitra kreatif sekaligus sumber pembelajaran, sehingga keterampilan tangan, teknik tradisional, dan pengetahuan lokal menjadi bagian penting dalam pembentukan karya arsitektur. Pendekatan tersebut melahirkan desain yang tidak hanya responsif terhadap konteks, tetapi juga mengedepankan keberlanjutan material serta penghargaan terhadap warisan budaya. Bagi Andy Rahman, arsitektur merupakan perjalanan reflektif untuk memahami hubungan manusia dengan ruang, alam, dan tradisi. Gagasan Architecture as a Path to Return menjadi landasan filosofis bagi kekaryaannya, mengajak masyarakat untuk kembali menemukan nilai-nilai lokal sebagai sumber inovasi arsitektur kontemporer. Karyanya telah ditampilkan dalam berbagai forum dan pameran internasional, antara lain Indonesian Architects Week di Tokyo (2011), Seoul (2017), dan Kuala Lumpur (2024), Indonesian Architecture Public Exhibition di Den Haag (2012), Spirit 45: The Rise of Asia di Prancis (2018), Material Matters di Silpakorn University, Thailand (2018), serta Lokakarya Desain Bandara Perintis bersama Andra Matin dan Aga Khan Award for Architecture (2023). Berbagai penghargaan turut mengukuhkan kiprahnya, termasuk 50 Best Architectural Projects 2019 dan Best 50 Houses 2019 versi ArchDaily untuk Omah Boto, serta IAI Jawa Timur Award 2021 kategori Large-scale Residential (Winner) untuk Omah Boto dan kategori Social Building (Honorable Mention) untuk Honeycomb Mosque.