
2026|Pensil Warna pada Kertas|30 x 40 cm
Kasut Kumis Semeru, begitu ia akrab dipanggil. Paphiopedilum glaucophyllum merupakan anggrek endemik Jawa Timur yang terancam punah tumbuh di lereng gunung dan tebing kapur berlumut, tepatnya di sebelah Selatan Gunung Semeru, Lumajang Jawa Timur. Paphiopedilum glaucophyllum memiliki susunan bunga berupa tandan. Tangkainya berwarna hijau kecoklatan dipenuhi rambut-rambut halus berwarna putih. Kelopak lateralnya bergelombang berwarna hijau atau kuning pucat dihiasi bintik-bintik merah keunguan. Dalam satu ibu tangkai bunga, mekarnya akan berlangsung secara bergantian. Satu per satu. Setelah bunga pertama mekar akan diikuti pemekaran bunga kedua, dan seterusnya. Sehingga terlihat seolah-olah ia berbunga sepanjang tahun. Seperti detik yang terus berdetak. Bibir (labellum) merah keunguan di bukit Gunung Semeru kian memudar oleh jejak manusia yang tak pernah puas. Sebelum betul-betul hilang dan sirna, kuncup-kuncup baru terus berdegup. Sebagai hentakan perlawanan atas keserakahan dan sebuah kesadaran baru bahwa detik yang telah berlalu selamanya tak akan pernah kembali pun memiliki pengganti.
Diandra R. Amelia, yang lebih akrab disapa Dira, asal Bandung, telah menekuni seni sejak usia dini. Melalui eksplorasi berbagai medium dan teknik, ia menemukan minatnya pada seni botani, khususnya melalui penggunaan pensil warna dan grafit. Kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia menjadi sumber inspirasi utama dalam praktik artistiknya, dengan anggrek sebagai salah satu subjek yang paling sering hadir dalam karya-karyanya. Praktik seni Dira berangkat dari ketertarikan pada hubungan antara manusia, alam, dan sains. Melalui pendekatan yang memadukan sensitivitas artistik dan ketelitian ilmiah, ia mengamati serta merekam karakter tumbuhan dengan perhatian tinggi terhadap detail, struktur, dan akurasi visual. Karya-karyanya tidak hanya menghadirkan keindahan flora Indonesia, tetapi juga menjadi bentuk apresiasi terhadap pengetahuan botani dan pentingnya pelestarian alam. Komitmennya terhadap seni botani tercermin melalui keterlibatan aktifnya dalam Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA), sebuah komunitas yang mewadahi perkembangan seni botani di Indonesia. Selain berkarya sebagai seniman botani, Dira juga mengeksplorasi medium keramik dan lukisan cat minyak sebagai bagian dari praktik kreatifnya yang lebih luas. Karya-karyanya telah ditampilkan dalam sejumlah pameran, antara lain The Silent Earth di Titik Temu Space, Bandung (2017), Pengembara Molek di Taman Menteng, Jakarta (2022), serta Floriculture Indonesia International Expo di ICE BSD (2025). Selain aktif berpameran, Dira juga berkontribusi sebagai ilustrator ilmiah untuk The Genus Paphiopedilum karya Guido J. Braem (2020) dan Bee Forage Book terbitan Madhu Duniya (2026).