
2025|Cat Minyak pada Linen|120 x 150 cm
Karya ini berangkat dari kegelisahan bagaimana identitas seorang anak sering kali dibentuk oleh proyeksi yang datang dari generasi sebelumnya. Melalui karya ini, saya memvisualisasikan figur orang tua yang dengan penuh keyakinan menggantungkan bintang di atas meja makan. Bintang-bintang tersebut hadir sebagai simbol mimpi, cita-cita mulia, dan standar keberhasilan yang diidamkan agar kelak diraih oleh sang anak atau generasi penerus. Namun, di balik kerlip cahayanya yang memikat, bintang-bintang itu memancarkan gravitasi yang menekan. Bagi sang anak, meja makan bukan lagi sekadar ruang perjamuan yang hangat, melainkan arena pertarungan psikologis. Bintang-bintang yang digantungkan menjelma menjadi beban struktural yang menuntut kepatuhan. Ia dipaksa untuk tumbuh dan berjalan dalam kerangka ekspektasi yang kaku, memikul ambisi-ambisi terpendam orang tua yang pada faktanya sering kali berbenturan dan tidak sejalan dengan hasrat, keinginan, serta potensi yang ia miliki di dalam dirinya. Pertarungan di atas meja makan ini mewakili dinamika universal antara warisan ambisi dan pencarian jati diri. Ruang domestik yang semestinya menjadi tempat bertumbuh justru menjadi arena negosiasi yang melelahkan. Karya ini adalah sebuah panggilan kesadaran untuk mendengarkan dan menghargai keunikan seorang anak agar mereka memiliki ruang penuh untuk merajut, memiliki, dan mengejar mimpi sejati milik mereka sendiri
Ufa Faizah menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Brawijya, kemudian meraih Magister Hukum di Universitas Airlangga. Selama beberapa tahun terakhir, Ufa secara intensif mengembangkan praktik seni lukis cat minyak dengan pendekatan direct painting (alla prima), sebuah metode yang memungkinkannya menghadirkan sapuan spontan sekaligus mempertahankan intensitas ekspresi pada setiap karya. Bahasa visualnya berpusat pada figur boneka yang ditransformasikan dari sekadar objek permainan menjadi metafora yang merepresentasikan emosi, ingatan, dan pengalaman batin manusia. Melalui penataan latar, properti, serta pencahayaan yang dirancang secara cermat, ia membangun ruang-ruang imajinatif yang mengaburkan batas antara realitas dan fantasi.Sejak aktif berpameran pada 2018, Ufa terus memperluas praktik artistiknya melalui berbagai pameran tunggal dan kelompok. Ia menggelar pameran tunggal Lost in Wonderland di Indieart House Yogyakarta (2021), yang kemudian diikuti oleh Mlaku-Mlaku nang Alun-Alun Suroboyo di Balai Pemuda Surabaya (2023), The Icon di Jakarta (2023), Jogja Affordable Art di Yogyakarta (2023), The Beginning di ArtLab Lounge Surabaya (2024). Selain itu, karya-karyanya juga dipresentasikan dalam pameran bersama, antara lain Perupa Muda #6: You Nom It di Yogyakarta (2024), The Grandeur of Classicism Reimmaginari Renaissance di Bandung, SENS OF SELF di Jakarta (2025), dan The Subconscious Room Yogyakarta (2025).