
2026|Bubuk Terakota, Besi, Pigmen, dan Media Campuran|Dimensi Bervariasi
Karya ini mempertemukan material bumi dengan struktur besi sebagai metafora tentang hubungan manusia, alam, dan sistem yang membentuk kehidupan. Bongkahan bertekstur ornamentis menyerupai fragmen geologis sengaja dihadirkan sebagai tubuh tanah yang menyimpan tekanan, waktu, serta jejak perubahan. Sementara itu, konstruksi besi hadir sebagai ruang yang menahan sekaligus membatasi, menggambarkan upaya manusia untuk mengatur sesuatu yang pada hakikatnya terus bergerak dan berubah. Kontras antara material organik dan struktur industrial menciptakan dialog tentang kebebasan, keterikatan, dan ketahanan. Karya ini mengajak kita memahami bahwa bumi bukan benda yang dapat sepenuhnya dikendalikan, melainkan entitas hidup yang terus bernegosiasi dengan tindakan manusia dan perubahan zaman.
Endang Lestari bekerja terutama dengan medium tanah liat dan media campuran. Lulusan program Sarjana dan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini mengembangkan praktik artistik yang berangkat dari pertemuan antara tanah, migrasi, ritual, dan ingatan ekologis. Karya-karyanya mengabstraksi narasi-narasi berlapis tentang perpindahan dan kepulangan, menghadirkan ruang di mana geografi, budaya, sejarah, dan memori saling berkelindan. Bagi Endang, tanah bukan sekadar material, melainkan arsip hidup yang menyimpan jejak perjalanan manusia, perubahan lanskap, dan hubungan yang terus berkembang antara tubuh, alam, dan komunitas. Praktiknya mengeksplorasi gagasan ekologi regeneratif yang lahir dari retakan budaya, memori kolektif, serta siklus alam yang terus bergerak. Dengan memadukan warisan tradisi dan pendekatan seni kontemporer, ia menelusuri jejak leluhur untuk menghidupkan kembali ritual, memori tubuh, dan keterhubungan lintas budaya. Pendekatan ini membentuk bahasa visual yang puitis sekaligus reflektif, mempertemukan pengalaman personal dengan isu-isu ekologis dan pascakolonial. Karya Endang telah dipresentasikan dalam berbagai pameran, program publik, dan residensi internasional, di antaranya Liechtenstein Triennale (2021), Biennale Jogja XVII: TITEN (2023), Rainforest Fringe Festival di Sarawak, Malaysia (2017), Art Moments Jakarta (2024–2025), ARTJOG—Art Fair: Jogja Chapter (2025), serta ICAD #15. Ia juga merupakan finalis UOB Painting of the Year (2025) dan pernah mengikuti residensi di Shigaraki Ceramic Cultural Park, Jepang (2011). Saat ini, melalui proyek jangka panjang Geologies of Memory (2024–sekarang), Endang menelusuri hubungan antara migrasi, arsip tanah, lanskap pascakolonial, dan ekologi ritual sebagai upaya merumuskan kembali narasi regenerasi melalui pendekatan geopuitik.