
2026|Media Campuran pada Kanvas (kolase profing sablon)|165 x 135 cm
Sehancur-hancurnya proses hidup yang telah dilewati—mulai dari merangkak, beranjak, hingga berdiri tegak—manusia pasti akan melalui proses tersebut. Hanya ketahanan diri yang menjadi faktor utama, sekaligus daya tawar dalam menghadapi gempuran hidup apa pun. Kita menjalani hidup dengan cara yang bahagia, lahir dari perenungan dan refleksi tentang bagaimana menghadapi pasang surut kehidupan. Ketika bekal kebahagiaan itu dibawa turut serta dalam setiap prosesnya, maka luaran apapun akan dibersamai oleh kebahagiaan.
Wibi Wardhani memulai perjalanan artistiknya dimulai pada 1996 ketika menempuh pendidikan di Program Pendidikan Seni Rupa, Universitas Negeri Malang. Dalam dunia seni rupa, Wibi terlibat dalam sejumlah komunitas, antara lain Sanggar Minat, Kentjing Andjing, dan Portal, sementara di bidang musik ia merupakan anggota kelompok musik Tani Madjoe. Praktik artistik Wibi berfokus pada eksplorasi medium sablon, khususnya pemanfaatan proofing sablon sebagai material utama dalam penciptaan karya. Melalui permainan warna, lapisan, dan komposisi yang khas, ia mentransformasikan material yang umumnya dianggap sebagai hasil sampingan proses cetak, menjadi karya yang memiliki kualitas visual dan estetik tersendiri. Pendekatan ini mencerminkan ketertarikannya pada proses eksperimentasi, sekaligus membuka kemungkinan baru dalam pengolahan medium grafis. Karya-karya Wibi telah dipresentasikan dalam ajang, seperti Manifesto: Transposisi di Galeri Nasional Indonesia (2022), Kecil itu Indah, Yogyakarta (2022), Wet is My Friend, Yogyakarta (2022), Art Fair Kuala Lumpur (2021), Mini Art Malang (2023 dan 2025), 1st Grey Annual Award (2024), serta rangkaian pameran Lompat Pagar di Yogyakarta, Malang, dan Modus Locus Gallery, Amerika Serikat (2024). Pada 2025, ia juga berpartisipasi dalam pameran JUBILEUM di Paroki St. Aloysius Gonzaga Surabaya, KIAT di Malang, serta pameran bersama komunitas Kentjing Andjing dan Dewan Kesenian Malang.