
2026|Water Color on Paper|83 x 118 cm
Berkebun menjadi kegiatan sehari hari untuk mengisi waktu selama masa pandemi dengan menanam aneka tanaman hias dan sayuran. Perkenalan saya dengan Alocasia pertama kali pada waktu membeli tanaman hias, tanaman yang berdaun indah bak dipahat. Takjub dengan Alocasia baginda atau Alocasia Dragon Scale, warna hijau tua keabuan yang tebal dengan tekstur bak pahatan ini ternyata adalah tanaman native Indonesia dan endemik Pulau Kalimantan/Borneo. Rasa penasaran berlanjut ke kultivarnya Alocasia Silver Dragon dengan warna keperakannya. Mulailah berburu Alocasia alocasia native dan endemik Borneo baik lewat lapak tanaman maupun online marketplace. Baik tanaman yang sudah rawatan ataupun masih bonggol. Sangat mengasyikkan. Merawat tanaman hingga tumbuh subur dan indah menjadi hiburan di kala pandemi. Lukisan ini saya beri judul From Borneo with Love : Alocasia sp. Karena dari tanah Borneo tersimpan kekayaan alam yang luar biasa. Borneo adalah salah satu pusat keragaman Alocasia di dunia. Hutan hujannya merupakan habitat bagi lebih dari 20 spesies, termasuk banyak jenis endemik yang memiliki ciri khas daun eksotis, seperti tekstur menyerupai beludru dan tulang daun yang menonjol. Alocasia yang ada di dalam lukisan ini semuanya saya rawat sendiri. Antara lain : Alocasia baginda (dragon scale), Alocasia baginda (silver dragon), Alocasia reversa, Alocasia infernalis, Alocasia reginula, Alocasia antoro velvet, Alocasia puncak borneensis, Alocasia reginae, Alocasia bisma, Alocasia watsoniana, Alocasia princeps, Alocasia cuprea Saya juga menambahkan tanaman Labisia obtusifolia atau Labisia Turtle Back dan Paphiopedilum hookerae.
Henny Herawati tertarik pada seni botani bermula ketika tinggal di Paris pada 2008–2014, saat ia mulai mendalami teknik cat air. Pengalaman tersebut menjadi titik awal perjalanan artistiknya yang kemudian berfokus pada penggambaran kekayaan flora Indonesia. Henny menjadikan keanekaragaman hayati Nusantara sebagai sumber inspirasi utama, terutama anggrek dan berbagai spesies tumbuhan langka yang memiliki nilai ekologis sekaligus estetis. Sejak bergabung dengan Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA) pada 2017, Henny aktif mempromosikan seni botani melalui berbagai pameran di Indonesia maupun mancanegara. Karyanya telah dipamerkan dalam Ragam Flora Indonesia, Flora of Southeast Asia di Singapore Botanic Gardens, Narawandira di Keraton Yogyakarta, Plantae yang diselenggarakan Society of Botanical Artists di London, The Art of Botanical Illustration di Royal Botanic Gardens Melbourne, serta The Resonance of Botanical Art: Japanese and Indonesian Botanical Artists di Jepang pada 2026. Pada 2024, ia meraih Bronze Medal dalam TABA Plantae Documentary di Taiwan. Sejak 2022, Henny juga tercatat sebagai Fellow Member Society of Botanical Artists, London. Selain aktif berpameran, beberapa ilustrasi botani Henny dimuat dalam buku The Genus Paphiopedilum karya Guido J. Braem (2021).