
2026|Mix Media|120 x 120 x 180 cm
Karya instalasi ini menghadirkan lanskap artifisial yang menyerupai ekosistem hutan basah: tanah, bebatuan, tanaman liar, air, dan pencahayaan redup ditempatkan sebagai ruang pengalaman imersif bagi pengunjung. Namun, di balik kesan alami tersebut, karya ini merupakan kritik terhadap praktik eksploitasi sumber daya alam, khususnya industri pertambangan, yang sering kali memutus relasi harmonis antara manusia dan lingkungan. Instalasi ini menegaskan bahwa alam pada dasarnya dapat dinikmati tanpa harus direkayasa secara berlebihan ataupun dieksploitasi demi kepentingan ekonomi semata. Secara konseptual, karya ini berangkat dari pemikiran deep ecology yang dikemukakan Arne Næss, bahwa alam memiliki nilai intrinsik di luar fungsi ekonominya bagi manusia. Dalam konteks tersebut, konservasi tidak hanya dipahami sebagai upaya melindungi alam setelah rusak, tetapi juga sebagai kesadaran etis untuk membatasi intervensi manusia terhadap ekosistem. Penggunaan elemen alami yang minim manipulasi dalam instalasi ini menjadi simbol bahwa keberadaan manusia seharusnya tidak selalu meninggalkan jejak material yang destruktif. Karya ini juga berkaitan dengan kritik terhadap paradigma pembangunan ekstraktif. Pertambangan memang menjadi kebutuhan penting dalam kehidupan modern, terutama untuk energi, infrastruktur, dan teknologi. Namun, persoalan utama terletak pada pola eksploitasi yang tidak berkelanjutan: deforestasi, pencemaran air, kerusakan tanah, hingga hilangnya biodiversitas sering menjadi konsekuensi dari aktivitas tambang yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan. Pandangan ini sejalan dengan konsep sustainable development dari World Commission on Environment and Development dalam laporan Our Common Future (1987), yang menekankan bahwa pemanfaatan sumber daya alam harus memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Melalui ruang yang gelap, lembap, dan menyerupai hutan yang “tersisa”, instalasi ini membangun pengalaman kontemplatif mengenai kondisi ekologis hari ini. Pengunjung diajak menyadari bahwa alam bukan sekadar objek eksploitasi ataupun dekorasi visual, melainkan ruang hidup yang memiliki keseimbangan sendiri. Dengan demikian, karya ini tidak menolak keberadaan tambang secara mutlak, melainkan mengkritik praktik pertambangan yang melampaui batas ekologis dan mengabaikan prinsip konservasi serta keberlanjutan lingkungan.
Retno Walfiyah menaruh perhatian pada hubungan antara seni, lingkungan, dan praktik keberlanjutan. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Seni Rupa Murni di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, kemudian meraih predikat Magister Seni Rupa dengan konsentrasi Manajemen Seni di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus pada 2022. Retno mulai aktif mengikuti pameran seni rupa sejak masa studi sarjana melalui berbagai pameran kelompok dan pameran angkatan di Surakarta. Berangkat dari medium utama seni lukis, pengalaman tersebut membentuk pemahamannya mengenai proses penciptaan karya, praktik artistik, kerja kolaboratif, serta dinamika penyelenggaraan dan pengelolaan ruang pamer sebagai bagian dari ekosistem seni. Setelah beberapa tahun vakum dari aktivitas berkarya, pada 2025 ia kembali mengembangkan praktik artistiknya dengan mengangkat tema konservasi hutan dan isu-isu lingkungan. Fase baru ini diawali melalui kolaborasi dengan Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, IPB University, yang mempertemukan pendekatan seni dengan kajian ekologi, pelestarian alam, dan keberlanjutan.