
2026|Insalasi Cross-Lighting|Installation: variable dimension Cross-lighting box: 240 x 30 x 240 cm
Jika menarik diri menuju frasa legendaris Habis Gelap Terbitlah Terang, kehidupan bermasyarakat hari ini agaknya jauh dari sebuah terang. Indonesia mengalami banyak masa gelap dan terang. Seperti punya siklus yang membosankan. Hanya berganti nama, keluarga, dan teman-temannya. Kurang lebih sifatnya sama, akhir ceritanya sama, juga senyum manisnya di awal waktu selalu sama. Penuh optimis, datang seperti penyelamat, lalu mengecewakan khalayak ramai pada pertengahan hingga akhir waktu. Habis Gelap... membawa pengalaman mengalami cahaya secara bertahap. Dari gelap, sempat mengalami remang-remang, hingga menuju tingkat cahaya tertinggi. Cahaya dipendarkan dari dalam sebuah kotak. Binar cahaya yang tidak langsung mengenai apapun di depannya. Merupakan ilustrasi dari bagaimana banyak keputusan yang jauh di sana mampu memengaruhi hidup masyarakat. Baik saat itu juga, atau beberapa waktu ke depan. Membuat terang yang kita harapkan tak akan pernah datang. Gagasan ini berangkat dari sebuah perenungan atas kondisi gelap dan bayang-bayang kekhawatiran yang selalu menyertai kita semua hari ini di Indonesia. Misal, cara kekuasaan mengambil keputusan, merespons masalah, hingga mengatur hubungan dengan rekan sendiri. Penerjemahan artistiknya terinspirasi dari James Turrell, yang berhasil membuktikan kemampuan cahaya untuk merasakan pengalaman dan memediasi persepsi. Habis Gelap... dimaksudkan untuk membawa pemaknaan akan kondisi hari ini. Antara yang besar dan yang kecil, yang kuat dan yang lemah, tentu yang terang dan yang gelap.
Wawan Dalbo memiliki latar belakang pendidikan Arsitektur dari Universitas Diponegoro, Semarang. Meskipun menempuh pendidikan arsitektur, ia tidak pernah menjalani profesi sebagai arsitek. Selama lebih dari dua dekade, ia aktif sebagai pengusaha di bidang properti. Pengalaman tersebut, bagaimanapun, tetap menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk cara pandangnya terhadap ruang, bentuk, struktur, dan lingkungan. Wawan mulai berpartisipasi sebagai seniman pada 2024 melalui ARTJOG – Motif: Ramalan. Kemunculannya dalam dunia seni berangkat dari sikap yang tidak ingin terburu-buru memberikan penjelasan atas karya. Baginya, ketika hampir semua orang sibuk menyampaikan pernyataan dan menawarkan tafsir, memilih untuk tidak memberikan statement justru dapat menjadi sebuah sikap artistik. Praktik Wawan memberi ruang bagi karya untuk berdiri dan berhadapan langsung dengan penonton tanpa terlalu banyak arahan. Ia membiarkan karya mengambil risiko untuk dipahami, disalahpahami, ditafsirkan secara berbeda, atau bahkan ditolak. Dalam pendekatan tersebut, diam bukan berarti ketiadaan gagasan, melainkan pilihan untuk tidak menambah kebisingan. Karyanya mengundang penonton untuk membangun hubungan dan maknanya sendiri melalui pengalaman berhadapan langsung dengan karya.