
2026|Kertas daur ulang, Tumpukan arang, Kaca|(Site Specific) 585 x 310 cm
Memoar adalah catatan ingatan saya tentang lanskap pesisir Surabaya yang perlahan terkikis oleh laju kota. Dalam karya ini, saya sengaja menghindari material baru. Saya memilih mengumpulkan material pasca konsumsi masyarakat pesisir Surabaya lalu meresponnya kembali menjadi bentuk yang berbeda. Bagi saya, material pasca-konsumsi ini bukan sekadar alat gambar, melainkan saksi hidup yang menyimpan trauma ekologis dan keheningan alam yang tergerus beton. Pengolahan limbah ini menjadi cara saya menggugat ketergantungan kita pada hal-hal instan.Praktik intim ini merespons langsung dua spektrum kuratorial ARTSUBS 2026 yakni, Batas yang Dijaga (Rematerialisasi). Saya memilih tetap setia pada disiplin karya 2 Dimensi. Namun, saya membongkar mediumnya dari dalam. Pigmen hitam komersial saya ganti total dengan arang sisa pembakaran mandiri dan memakai bahan daur ulang sebagai upaya untuk memperkuat konsep yang ada. Dalam karya ini batas wujud lukisan dijaga sebagai bahasa ungkap, tetapi materialnya membawa bau, sisa api, dan kritik sosial yang jujur ke atas bidang 2 dimensi. Batas yang Diperluas (Expanded Painting), saya menolak memenjarakan lukisan ini dalam bingkai spanram kaku. Saya memilih mensandingkkannya dengan menambah elemen gambar pada dinding dengan guratan ekspresif membiarkannya meluncur sampai bawah, hingga gambar itu merayap di lantai galeri. Di sana, gambar bersentuhan langsung dengan serpihan arang mentah dan puing tanah.Melalui pendekatan yang mengalir ini, Memoar menghidupkan ""ruang-antara"" yang mengaktifkan visual sekaligus indra penciuman pemirsa lewat aroma sisa pembakaran. Publik diajak singgah di ambang batas ingatan komunal kita, merenungkan kembali catatan kehancuran lingkungan yang sering kali luput dan terlupakan di tengah riuh rendahnya modernitas.
Alif Edi Irmawan adalah perupa sekaligus pengajar di Jurusan Seni Lukis SMKN 12 Surabaya (dahulu SMSR Surabaya). Alif menyelesaikan pendidikan Sarjana Seni Rupa Murni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 2020. Praktik artistiknya berfokus pada isu lingkungan, krisis ekologi, dan dinamika sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Melalui karya-karyanya, Alif memandang seni sebagai medium untuk merekam perubahan lingkungan sekaligus merefleksikan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Baginya, seni tidak hanya hadir sebagai konstruksi estetis, tetapi juga sebagai ruang untuk menghidupkan memori kolektif, menyuarakan pengalaman kelompok yang termarginalkan, serta mengajak audiens meninjau kembali hubungan manusia dengan alam yang semakin terasing akibat berbagai proses sosial dan ekonomi. Sejak aktif berkarya, Alif telah mengikuti berbagai pameran tunggal dan kelompok di berbagai kota di Indonesia. Pameran tunggalnya antara lain Keterasingan di Artspace@Helutrans, Yogyakarta (2020) dan Awal: Impresi dan Ingatan di Tujujati Artspace, Gresik (2024). Karyanya juga ditampilkan dalam berbagai pameran penting, termasuk Madya: Unfixed Center (2025), dan Surabaya Art Prize (2026). Prestasinya meliputi Bronze Award kategori Emerging Artist pada UOB Painting of the Year 2018, finalis Basoeki Abdullah Art Award 2016 dan 2023, serta finalis Surabaya Art Prize 2026. Ia juga mengikuti program residensi “Rembug Pahing Artist in Residence” pada Biennale Jatim IX.