
2026|Media Campuran pada Kanvas Linen|208 x 180 x 7 cm
Border, Threshold, Beyond menjadi ruang konseptual bagi karya ini untuk merefleksikan pengalaman sebagai perempuan keturunan Tionghoa di Indonesia, yang senantiasa berada di antara, melintasi, sekaligus dinegosiasikan oleh berbagai batas. Etnisitas, gender, sejarah politik, dan sosial membentuk lapisan-lapisan identitas pada persimpangan yang kompleks, tidak hanya menghadapi persoalan sebagai perempuan, tetapi juga sebagai bagian dari kelompok minoritas yang membawa jejak sejarah panjang diskriminasi, keterasingan, sekaligus upaya untuk terus berakar. Karya ini menghadirkan perjalanan yang tidak pernah benar-benar usai, sebuah pencarian akan makna 'pulang', bukan semata-mata merujuk pada ruang geografis, melainkan sebuah upaya berkelanjutan untuk menemukan rasa memiliki, rekonsiliasi, dan untuk kembali mencintai tanah air. Perjalanan itu dipresentasikan melalui seniman yang membawa batok “persembahan”, sebagai metafora atas ingatan, beban sejarah, harapan, dan bentuk relasi yang terus diupayakan dengan tanah tempat berpijak. Tangan yang menengadah, gestur yang menjadi ambang, titik perenungan mendasar dalam kehidupan manusia, 'apakah berada pada posisi menerima atau memberi', adalah sebagai simbol kerentanan, penerimaan, doa, sekaligus kerendahan hati. Pada akhirnya, karya ini mengajak penonton untuk merenungkan bahwa di balik berbagai batas identitas dan sejarah, hidup senantiasa kembali pada dua kemungkinan 'menerima atau memberi', sebagai cara untuk memaknai keberadaan serta membangun hubungan dengan sesama, dengan sejarah, dan dengan tanah air. Perjalanan melampaui batas tidak dimaknai sebagai upaya meninggalkan identitas, melainkan sebagai proses menegosiasikan, merangkul, dan merekonstruksi identitas tersebut, hingga “pulang” menjadi sebuah praktik yang selalu sedang berlangsung terus menerus.
Nana Yap pendiri dan direktur Daun Art Studio berkomitmen membangun komunitas seni yang inklusif bagi berbagai kalangan. Berangkat dari keyakinan bahwa seni merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, praktik artistiknya menjembatani seni, refleksi diri, dan keterlibatan sosial. Lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra, Surabaya, dan Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Nana juga memperdalam praktik seni terapeutik melalui berbagai sertifikasi internasional di bidang art therapy, art life coaching, dan praktik artistik meditatif. Pengalaman tersebut memperkaya pendekatan konseptual dalam karya-karyanya. Praktik Nana mengeksplorasi isu hak asasi manusia, hubungan antara tubuh, alam, dan kesadaran, serta siklus kehidupan—kelahiran, pelapukan, dan regenerasi. Melalui bentuk-bentuk organik dan komposisi yang mengalir, ia menciptakan ruang kontemplatif yang mengundang dialog batin antara manusia dan semesta. Karyanya telah dipresentasikan dalam berbagai pameran, antara lain Unfolding Horizons, Jakarta (2025), Finna Art Prize (2025), Moonveils: If You Know, You Know, Jakarta (2025) Grand Opening - Shift, Art WeMe Contemporary, Jakarta (2025), Art Jakarta Papers (2026), Empty Space di NIMCA Museum, Yogyakarta (2026), Starting Points, But Muchtar Gallery ISI Jogjakarta (2026), , dan sejumlah pameran di Art WeMe Contemporary, Jakarta. Sejak 2017, ia juga aktif sebagai anggota komunitas Urban Sketchers Surabaya.