
2026|Akrilik di Atas Kanvas|200 x 200 cm
Lanskap musim kemarau, selalu hadir sebagai refleksi dalam diri saya. Begitu banyak fragmen yang berubah dalam laskap musim kemarau. Pelan-pelan bukit di selatan Mulai dari warna hijau berubah menguning, udara lebih panas, air sungai menyusut dan sayup-sayup aroma garam air laut tercium jelas. transisi ini sungguh indah, kesempatan untuk menyusuri jalur selatan yang di apit bukit gunung purba dari jogja menuju pacitan penuh batu besar yang sudah lama saya rindukan, namun kali ini saya tidak Cuma kagum dengan laksapnya. Saya mulai mengerti, bagaimana karakter alam begitu juga karakter masyarakat yang tinggal di lanskap tersebut. saya merenung dan kagum bagimana mereka belajar dari alam sehingga lebih siap untuk menghadapi perubahan baik secara cuaca dan segala kekurangan yang terjadi akibat musim kemarau. Ilmu tentang alam ini menjadikan masyarakat dapat bertahan dan menyesuaikan diri di kondisi alam paling buruk di negara dengan iklim tropis. Sepanjang jalan renungan itu mulai menemukan objek yang menurut saya menjadi representasi atau symbol spirit dari masyarakat pesisir selatan pulau jawa ini. Bagimana tanaman jati tumbuh menjulang tinggi di atas batu dengan sangat subur dan berhasil bertahan di cuaca yang sangat minim akan air. Tampak Tangguh seperti pemenang! Fenomena ini menjadi dasar abstraksi saya akan lasnkap yang saya kagumi ini dan refleksi bagi diri saya agar lebih hati-hati dalam menyikapi apa yang saya lihat dan rasakan dalam setiap perjalanan.
Wayan Yusa Dirgantara menyelesaikan pendidikan di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Masa kecilnya yang tumbuh di kawasan Jimbaran, dengan panorama pantai berpasir putih, tebing kapur, dan kehidupan masyarakat pesisir menjadi fondasi utama praktik artistiknya. Yusa mengeksplorasi hubungan antara memori, lanskap, dan isu lingkungan yang muncul sebagai konsekuensi perkembangan kawasan wisata. Bagi Yusa, ingatan bukanlah rekaman yang utuh, melainkan fragmen-fragmen yang terus berubah. Karena itu, abstraksi menjadi bahasa visual yang dipilih untuk menerjemahkan kerinduan terhadap kampung halaman melalui permainan warna, tekstur, dan lapisan bentuk yang menghadirkan ruang kontemplasi sekaligus pengalaman spiritual. Sejak 2013, Yusa aktif mengikuti pameran di Indonesia maupun mancanegara, termasuk di Bali, Yogyakarta, Jakarta, Malaysia, dan Korea Selatan. Ia menggelar pameran tunggal My Space (2020), Panorama dalam Diam di Artotel Thamrin x Artsphere Gallery, Jakarta (2022), The Rhythm of Flow di Space 1326 Gallery, Korea Selatan (2022), serta Solo Presentation pada TIAF Jeju, Korea Selatan. Karyanya juga dipresentasikan dalam berbagai kesempatan, seperti Art Jakarta, Art Jakarta Gardens, Art Taipei, Ulsan International Art Fair, dan BAMA Busan Annual Market of Art. Pada 2026, ia berpartisipasi dalam Art Jakarta Papers bersama D Gallerie. Yusa merupakan finalis Jogja Art Weeks Special Project (2020) dan UOB Painting of the Year (2021).