
2026|Akrilik di atas kanvas|100 x 300 cm
Karya ini mengajak kita bertanya: apakah sesuatu yang rigid, kaku, dan kokoh benar-benar tidak dapat runtuh kan? Atau justru, batas seperti apa yang kita perlukan agar dapat hidup dengan lebih bebas? Pertanyaan ini mungkin terdengar kontradiktif, tetapi banyak hal dalam kehidupan bekerja melalui paradoks. disiplin memberi kebebasan, jeda menghadirkan kejelasan, dan batas menciptakan ruang untuk bertumbuh. Ada perbedaan antara membangun pagar dan membangun penjara. Dalam keseharian, membatasi pekerjaan atau aktivitas yang berlebihan dapat memberi kembali ruang dan waktu, membatasi hubungan yang tidak sehat dapat memberi kebebasan emosional; dan mengatur penggunaan media sosial dapat mengembalikan perhatian kita kepada hal-hal lain yang lebih berarti. Gagasan tentang batas dan negosiasi ini berangkat dari pengalaman personal dalam menjalani hubungan asmara beda agama selama sepuluh tahun. Perbedaan keyakinan menjadi sebuah batas yang nyata, tetapi batas tersebut tidak selalu berarti harus menjauh. Dua orang dengan keyakinan berbeda tetap dapat saling dekat, berkomunikasi, memahami, dan berbagi ruang kehidupan. Di sini, batas bukan semata-mata sesuatu yang memisahkan, melainkan sesuatu yang perlu dikenali dan dinegosiasikan agar kedekatan tidak harus menghilangkan identitas masing-masing. Karya ini menjadi refleksi tentang bagaimana hubungan dapat bertahan bukan dengan menghapus perbedaan, tetapi dengan belajar hidup di antara batas-batas tersebut. Negosiasi itu kemudian diterjemahkan melalui bentuk dan komposisi karya. Kanvas yang secara umum identik dengan bentuk persegi atau persegi panjang dan sudut 90° , kini dinegosiasikan melalui ujung-ujung yang tumpul, tanpa mengubahnya menjadi bentuk yang sepenuhnya organik atau meliuk-liuk. Ia tetap mempertahankan karakter geometrisnya, tetapi dengan sedikit pergeseran. Bidang-bidang pada lukisan yang saling tumpang tindih, berjarak, dan bersinggungan menjadi gambaran tentang berbagai pengalaman yang saling berhubungan tetapi tidak selalu melebur menjadi satu. Seperti hubungan manusia, setiap bidang memiliki ruang dan batasnya sendiri. Perbedaan dapat menciptakan jarak, tetapi jarak tidak selalu berarti keterpisahan.
Friski Jayantoro menyelesaikan pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Malang (UM) dan melanjutkan studi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Sejak 2019, Friski menjadi salah satu penggagas kolektif seni Pintu Belakang, sebuah ruang kolaborasi yang aktif mendorong praktik seni kontemporer di Jawa Timur. Praktik artistiknya berpusat pada lukisan abstrak dan sesekali instalasi yang menampilkan kesan minimalis, elegan, dan kontemplatif. Sebagai pribadi yang mengidentifikasi dirinya sebagai seorang introvert, Friski memandang seni sebagai medium untuk mendengar, mengamati, dan merefleksikan kehidupan, alih-alih sekadar menyampaikan pernyataan secara verbal. Karya-karyanya lahir dari perenungan terhadap pengalaman sehari-hari, dinamika batin, dan berbagai persoalan kehidupan yang kemudian diolah menjadi bahasa visual yang puitis dan terbuka terhadap beragam tafsir. Sejak menggelar pameran tunggal Immunity di Relief Gallery, Rayz UMM Hotel, Malang (2022), Friski aktif mengikuti berbagai pameran nasional di galeri, museum, dan art fair bergengsi. Karyanya telah dipresentasikan dalam Manifesto di Galeri Nasional Indonesia, Biennale Jawa Timur IX, Selasar Sunaryo Art Space, ArtSubs, Arch.id, serta berbagai pameran di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, dan Jerman. Sebelumnya, ia juga meraih sejumlah penghargaan dalam kompetisi seni lukis dan graffiti.