
2026|Gerabah|33 x 16 x 24,5 cm
Paksi Naga Liman adalah makhluk mitologi hibrid dan simbol kebesaran asal Cirebon yang menggabungkan bentuk burung (paksi), naga, dan gajah (liman). Wujud elemen pembentuknya berupa: Paksi (Burung): Memiliki sayap burung, sering diasosiasikan dengan pengaruh Islam atau Buraq serta lambang dunia atas/langit. Naga: Memiliki kepala atau wajah naga, melambangkan pengaruh kebudayaan Tiongkok serta kekuatan alam bawah atau air. Liman (Gajah): Memiliki badan dan belalai gajah (mirip Ganesha), melambangkan kebudayaan Hindu serta alam tengah atau bumi. Makhluk mitologi ini merepresentasikan semangat multikulturalisme dan akulturasi tiga kekuatan besar peradaban yang memengaruhi Kerajaan Cirebon: Islam (lewat pengaruh Mesir/Timur Tengah), Tiongkok, dan Hindu. Selain itu, bentuknya mencerminkan konsep triloka (tiga dunia): dunia atas (spiritual), dunia tengah (bumi/nyata), dan dunia bawah (air/bawah sadar).
Iftikhar Ahmad Rajwie menyelesaikan pendidikan Sarjana Seni Rupa dengan peminatan Keramik di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian melanjutkan studi Magister Seni Rupa di institusi yang sama. Dalam praktik artistiknya, ia menjadikan keramik sebagai medium utama untuk mengeksplorasi hubungan antara material, budaya, dan pengalaman manusia. Bagi Iftikhar, keramik tidak sekadar dipahami sebagai benda fungsional, melainkan sebagai artefak budaya yang merekam sejarah, pengetahuan, dan dinamika sosial masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, ia memusatkan perhatian pada tradisi keramik Sitiwinangun di Cirebon dengan meneliti posisi, fungsi, serta transformasinya di tengah perubahan zaman. Melalui pendekatan riset dan praktik studio, ia memadukan teknik keramik tradisional dengan bahasa seni kontemporer. Karakter tanah liat, proses pembentukan, hingga jejak pembakaran diolah sebagai metafora yang merefleksikan ingatan budaya, identitas, serta kesinambungan antara masa lalu dan masa kini. Karya-karyanya telah dipresentasikan dalam berbagai pameran nasional, antara lain ARTJOG 2024, Jogja Ceramic Festival, ARTSUBS – Material Ways di Balai Pemuda Surabaya (2025), Observersi di Lawangwangi Creative Space, serta sejumlah pameran seni dan kriya di Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta. Melalui eksplorasi materialitas keramik, Iftikhar membangun dialog antara tradisi dan praktik seni kontemporer.