
2026|Cat air di atas kertas|painting: 61 x 46 cm frame: 76 x 53 cm
Manusia merupakan bagian dari alam sekaligus pengamat terhadap alam itu sendiri, di mana keduanya dilingkupi roh kehidupan yang sama, namun memiliki dunia yang sangat berbeda. Pendaran cahaya di sini bukanlah sesuatu yang dihasilkan oleh sang bunga, namun dipantulkan dari lingkungan sekitarnya yang kemudian melewati proses transformasi dalam kesadaran dan diterjemahkan oleh lapis demi lapis ulasan warna. Siapakah makhluk nan indah ini, yang terabadikan di suatu kala? Sebuah rekam jejak eksistensi di bumi, perayaan keragaman yang mungkin kelak tak bersisa. Paphiopedillum bungebelangii merupakan anggrek selop endemik dari dataran tinggi Aceh di Sumatera, namanya diambil dari bahasa Gayo yang berarti bunga yang cantik.
Deinitisa Amarawi menempuh pendidikan Desain Interior di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ketertarikannya pada cat air telah tumbuh sejak remaja dan berkembang menjadi praktik artistik yang memadukan ketelitian desain dengan kepekaan terhadap bentuk-bentuk organik di alam. Melalui teknik sapuan cat air yang halus dan meditatif, ia menghadirkan keindahan tumbuhan sebagai subjek yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga sarat makna ekologis. Sebagai anggota sekaligus Ketua Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA), Deinitisa aktif mempromosikan seni botani dan memperkenalkan kekayaan biodiversitas Indonesia kepada khalayak yang lebih luas. Meskipun tidak memiliki latar belakang hortikultura atau botani formal, ia menjadikan proses mempelajari setiap spesies tumbuhan sebagai bagian penting dari praktik berkaryanya. Baginya, seni botani merupakan cara untuk mendokumentasikan sekaligus mengingatkan publik akan rapuhnya keberadaan alam di tengah perubahan lingkungan. Karyanya telah dipamerkan dalam berbagai ajang penting, antara lain Jakarta Biennale, Flora of Southeast Asia di Singapore Botanic Gardens, Narawandira di Keraton Yogyakarta, serta seri Ragam Flora Indonesia di Bogor, Jakarta, dan Bandung. Ia juga terlibat dalam berbagai proyek edukasi dan konservasi, termasuk sebagai juri pameran seni botani di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada serta peserta pameran konservasi yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan. Melalui karya-karyanya, Deinitisa mengajak masyarakat untuk memperlambat langkah, mengamati alam dengan saksama, dan menyadari pentingnya menjaga keanekaragaman hayati sebagai warisan bagi generasi mendatang.