
2026|Batu Alam, Kantung Plastik, Mur, Baut, Pompa Angin, Arduino, Timer|200 x 200 x 200 cm
Karya ini merupakan sebuah pengingat visual dan auditif bagi subjek manusia untuk kembali menyadari ritme tubuh yang sering kali terabaikan dalam deru aktivitas sehari hari. Melalui penggabungan material yang kontradiktif antara batu dan plastik, instalasi ini memanifestasikan gagasan mengenai ""Batas yang Dijaga"". Batu yang monolitik mewakili citra diri manusia yang ingin terlihat keras dan kokoh, sementara plastik yang tipis dan rapuh menjadi representasi dari sisi rentan yang tersembunyi di baliknya. Perjumpaan kedua material ini bukan sekadar oposisi biner, melainkan sebuah bentuk rematerialisasi di mana material pendukung lainnya hadir untuk merundingkan kembali keutuhan bahasa ungkap di kehidupan saat ini. Secara mekanis, karya ini mengoperasikan sistem tiup dan hisap repetitif yang memompa udara ke dalam kantung plastik. Gerakan ini merupakan metafora langsung dari ritme pernapasan manusia yang sering kali luput dari perhatian. Udara yang bersifat imaterial menjadi penghubung antara yang nyata dan yang maya, antara tubuh-raga dan mesin. Proses ini sejalan dengan konsep ""Batas yang Diseberangi"", di mana praktik bunyi sebagai medium bersinggungan dengan ritual raga, melahirkan bentuk hibrida yang menangguhkan pemisahan antara subjek dan objek. Di tengah dinamika dunia yang serba cepat, instalasi ini hadir sebagai sebuah ruang-antara (in-between space). Ia mengundang audience untuk memperlambat langkah, menyelami resonansi yang bekerja pelan dalam jiwa-raga, dan masuk ke dalam lanskap perjumpaan yang tidak menuntut kesimpulan instan. Melalui udara yang tak berwujud namun esensial bagi keberlangsungan hidup, karya ini mengajak kita untuk lebih bersyukur dan sadar terhadap apa yang telah dicapai, sembari mengakui bahwa di balik kekuatan yang tampak, terdapat kerentanan yang harus terus dirawat. Pengalaman ini pada akhirnya diharapkan mampu mengubah cara kita melihat diri sendiri dan realitas di sekitar kita.
Bayu Putra Pratama lahir di Bandung pada tahun 1994. Pada tahun 2017, ia meraih gelar Sarjana Seni Rupa (Studio Seni Grafis) dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Bayu telah berpartisipasi dalam berbagai pameran dan ajang seni penting, di antaranya meraih Juara Pertama Open Call Media Art Globale Quantum Land (2020), berpartisipasi dalam Nuanu Nowhere, Now Here II (2024), serta masuk dalam Top 15 Finalis Finna Art of the Year (2025) di Orasis Art Space, Surabaya. Dalam praktik berkaryanya, Bayu kerap menggabungkan beragam karakteristik material sebagai medium utama. Melalui eksplorasi material tersebut, ia berupaya memvisualisasikan hal-hal yang tidak kasatmata, termasuk bunyi-bunyi organik, dengan mengembangkan mekanisme sederhana untuk menciptakan komposisi yang kompleks. Pendekatan ini memungkinkan material yang digunakan menampilkan potensi dan karakter uniknya secara maksimal. Tema-tema yang sering hadir dalam karyanya berkaitan dengan kesadaran diri, refleksi personal, dan upaya memahami pengalaman hidup melalui proses artistik. Selain berkarya di ranah seni rupa, Bayu juga mengembangkan proyek musik eksperimental bernama GURU. Kelompok ini mengusung konsep pertunjukan situasional dan eksplorasi bunyi sebagai praktik musikalnya. GURU pernah menggelar konser tunggal di GoetheHaus, Goethe-Institut Jakarta, pada tahun 2019 dan tampil dalam program Jamming Session di Museum MACAN pada Juli 2025. Saat ini, selain aktif berpameran, Bayu sedang menempuh studi Magister Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB).