
2026|Cat air di atas kertas|each drawing: 18 x 18 cm (12 panel) frame: 76 x 106 cm
Pocket Flora: Orchids of Java' lahir dari perjalanan menyenangkan menyusuri lereng-lereng gunung di Jawa — menembus kabut, tanah basah, dan akar-akar yang memeluk batu. Terinspirasi dari catatan J. B. Comber dalam Orchids of Java, karya ini bukan sekadar pendokumentasian, melainkan percakapan antara seniman dan makhluk yang telah lama mendiami hutan sebelum manusia mengenalnya dengan nama. Dua belas tumbuhan keluar dari buku sketsa, menampilkan jendela-jendela kecil menuju dunia yang sering terlewat. Setiap anggrek memancarkan ketahanan yang sunyi — tumbuh tanpa tanah, menempel pada batang, bertahan dalam musim yang berubah-ubah. Mereka adalah penyintas yang mekar dengan anggun.
Rio Ananta Prima menaruh perhatian khusus pada tumbuhan dan alam tumbuh melalui pengalaman menjelajahi lingkungan sekitarnya, yang kemudian menjadi sumber inspirasi utama dalam praktik berkaryanya. Sejak bergabung dengan Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA) pada 2018, Rio mengembangkan seni botani sebagai medium ekspresi sekaligus sarana komunikasi visual untuk memperkenalkan keragaman flora Indonesia. Menggunakan cat air sebagai medium utama, ia memadukan ketelitian observasi ilmiah dengan pendekatan artistik untuk menghadirkan representasi tumbuhan yang akurat sekaligus memiliki kekuatan estetis. Rio merupakan lulusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya dan saat ini melanjutkan studi Magister Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa di Universitas Gadjah Mada. Karyanya telah dipamerkan dalam berbagai pameran nasional dan internasional, di antaranya Young Botanical Artist Competition di Shirley Sherwood Gallery, Kew Gardens, London (2023), The Resonance of Botanical Art: Japanese and Indonesian Botanical Artists di Kochi Prefectural Makino Botanical Garden, Jepang (2026), serta seri pameran Ragam Flora Indonesia, Pekan Seni Botani, Narawandira, dan Botanical Art Worldwide 2025. Selain aktif berpameran, Rio juga berkontribusi dalam publikasi ilustrasi botani, termasuk untuk buku The Genus Paphiopedilum edisi ketiga karya Guido J. Braem (2021), serta menyusun buku ilustrasi Keanekaragaman Anggrek sebagai Media Edukasi di Kebun Raya Bogor sebagai tugas akhirnya pada 2024. Melalui karya-karyanya, Rio berupaya membangun dialog antara seni, sains, dan konservasi, dengan menghadirkan botanical art sebagai media yang mengajak publik mengenali, mengapresiasi, dan menjaga kekayaan hayati Indonesia.