
2026|Media Campuran (rangka plat besi, ragam kain, dakron, dan manik-manik)|250 x 350 x 325 cm
SIKLUS KEHIDUPAN; PENCARIAN JATI DIRI AKAN YIN & YANG DALAM DIRI ● Ketika masuk ke dalam area karya, kaki akan menginjak kerikil-kerikil, pertanda siklus kehidupan yang tidak mulus telah dimulai. Kita memulai hidup kita di dunia, memulai petualangan kita dalam keadaan “NULLA” (nol). ● Rumah tenda dengan fasad yang kokoh berwarna cokelat tua mewakili sisi maskulin (Yang) yang bisa diandalkan. Sedangkan di area dalam, seluruh ornamen storytelling dengan ragam tekstil berwarna-warni dengan teknik craft rumahan mewakili kehangatan dari sisi feminin (Yin). Rumah yang diangkat melayang tidak menempel pada lantai menggambarkan bagaimana kita sebagai manusia memiliki angan-angan dan selalu hidup dalam ketidakpastian. ● Siklus hidup bermula dari taburan bunga, kita lahir dalam keadaan berbunga-bunga, lalu ketika menginjak dewasa kita mulai mempertanyakan diri kita (KARYA 1) dan mencari-cari inspirasi untuk bagaimana kita mau menjalani hidup, cita-cita dan impian satu persatu mulai dibangun. ● (KARYA 2) Kita mulai menjalankan impian kita dengan cara kita masing-masing. Dalam karya 2, sosok “si penjelajah” memutuskan memulai petualangannya dengan merantau menaiki kapal laut. ● (KARYA 3) Namun meskipun manusia sudah berkehendak dan membuat rencana-rencana kehidupan, kadang hidup tidak bisa berjalan sesuai dengan keinginan kita. Ketika badai dan cobaan hidup datang melanda, kita dibuat terombang-ambing oleh takdir, tenggelam dan putus asa dengan kehidupan. ● (KARYA 4) Di tengah keputusasaan, Tuhan/ Semesta menarik kembali tangan kita keluar dari penderitaan. Mengajak kita untuk memulai kembali kehidupan meski harus dari dasar kembali. Tangan yang menengadah ke atas menandakan bentuk kepasrahan dan kepercayaan pada takdir. Sehingga muncullah tunas bunga pertanda lambang harapan untuk bangkit kembali. ● (KARYA 5) Pada akhirnya, ketika hidup tidak bisa berjalan sesuai dengan yang kita harapkan, kita terpaksa memulai kembali segala sesuatu dengan kondisi yang terbatas. Gerobak tua tambal sulam, roda gerobak yang sering bocor, kerikil-kerikil kehidupan yang membuat jalan kita tertatih. Tapi kita terus berjuang, sehingga pada akhirnya muncullah hasil panen dalam bentuk ruas padi, perlambang kemakmuran yang merupakan hasil dari kerja keras kita sendiri. Karena padi yang dirawat dalam pot tidak akan menghasilkan apapun, namun ketika ditanam di lumpur, terinjak-injak dan terkena terpaan angin kencang, hujan dan matahari, malah tumbuh dan menjadi sumber kehidupan. ● (KARYA 6) Setelah semua perjuangan hidup kita usai, kita kembali pulang ke rumah. Dengan definisi rumah tiap orang yang berbeda-beda. Kebahagiaan dan kehangatan yang berbeda-beda pula. Beberapa menemukan kebahagiaan dan kehangatan rumah dalam karir yang ia perjuangkan, beberapa dalam kehangatan rumah tangga keluarga kecilnya, beberapa dalam pengejaran mimpinya jauh dari kampung halaman, beberapa justru memilih pulang ke kampung halaman untuk membaktikan diri. Setiap rumah merupakan perwakilan dari kepuasan diri dalam menjalani kehidupan versi masing-masing yang tanpa penyesalan. ● Karya diakhiri dengan melangkah keluar dari rumah, dengan ornamen bunga. Ketika kita lahir kita disambut bunga dalam keadaan NULLA/ kosong/ nol. Dan akan kembali pulang dengan disambut bunga dan dalam keadaan NULLA/ kosong/ nol pula. ● Konsep dasar kisah ini terinspirasi dari kisah hidup, perjuangan, dan pertemuan cinta antara kakek dan nenek dari seniman sendiri. ● Storyline “Quest of a Restless Soul” (in English) (berurutan per modul karya) (gallery sitter can use this text for native speakers to explain the stories)
Debora Ayu Quinta, yang dikenal dengan nama artistik BOYA, adalah perupa mixed-media berlatar belakang Desain Komunikasi Visual dari Institut Teknologi Nasional (ITENAS). Saat ini ia mengajar di Seni Rupa di Santo Aloysius Bandung. Praktik artistiknya berpusat pada eksplorasi makna koneksi sebagai pengalaman mendasar dalam kehidupan, meliputi hubungan dengan diri sendiri, Tuhan, sesama manusia, dan alam. BOYA mengeksplorasi berbagai medium yang terus berubah, dengan kecenderungan menggunakan material dan teknik kerajinan tangan (craft) sebagai bagian penting dari bahasa visualnya. Kebebasan bereksperimen dan keberanian mengikuti intuisi melahirkan pendekatan khas yang ia sebut sebagai ZukaZukaBoya, sebuah cara berkarya yang menekankan kejujuran, spontanitas, dan ekspresi diri. Ia berpartisipasi dalam berbagai pameran di Bandung, Jakarta dan Jogjakarta. Melalui karya-karyanya, BOYA mengajak KITA untuk kembali merasakan keterhubungan dengan kehidupan serta menemukan makna dalam pengalaman sehari-hari. Filosofi hidupnya bertumpu pada kebebasan untuk menjalani hidup sesuai pilihan sendiri, hadir sepenuhnya di masa kini, dan terus mengembangkan potensi diri.