
2026|Stainless Steel & Brass|500 x 160 x 105 cm
"Karya ini terinspirasi oleh permainan puzzle: menyusun kepingan-kepingan menjadi kesatuan gambaran yang utuh. Disusun oleh jalinan struktur berpola segi empat dalam jumlah sekian ribu lewat teknik pengelasan. Mata kita diajak mengamati dengan cara bolak-bolik antara yang makroskopik dan yang mikroskopik. Yakni, pandangan yang tertuju pada gambaran besar tentang ""sosok"" mobil, lalu amatan bergeser pada gambaran kecil berupa detail yang menyusunnya. Terbuat dari stainless steel, jenis logam baja tahan karat. Lebih dari sekadar medium, logam dalam karya """"Race to Risk"""" melampaui aspek materialnya. Ia berpaut dengan riwayat tentang produksi pengetahuan manusia dari zaman ke zaman. Dalam sejarah peradaban, metalurgi menjadi landasan evolusi teknologi melalui serangkaian inovasi. Pencapaian kreasi atas logam menjadi penanda kemajuan dan modernitas. Dengan ukuran yang tidak berbeda dengan ukuran asli mobil balap Formula 1 Ferrari, karya ini merupakan metafora tentang modernitas tanpa akhir melalui siklus berulang dan tanpa batas. Dalam sirkuit, mobil balap melaju berputar pada lintasan yang melingkar atau tertutup dimana start dan finish berada di titik yang sama. Ia meninggalkan jejak untuk menemui jejaknya kembali. Melaju berputar dalam siklus gerak berulang yang abadi. Kita tahu, masyarakat modern berada dalam pusaran paradoks. Lahir dari nyawa modernisme yang percaya bahwa sejarah kemajuan sebagaimana gerak linier. Yakni dengan meninggalkan jejak masa lampaunya, masyarakat modern bergerak lurus menuju kemajuan masa depan yang dibayangkan. Demi itu, modernisme pantang mengulanginya apa-apa yang telah lewat. Tapi dalam kenyataan, keyakinan itu kini kehabisan darah, tak bisa bertahan lagi. Sejarah kembali berulang secara siklis. Sebagaimana yang terjadi pada lintasan sirkuit yang melingkar itu, setiap pembalap selalu kembali ke titik awal, berputar-putar melewati garis finish. Begitu pun refleksi atas laju modernitas, yang bukan lagi linier tapi siklis. Sebuah gerak maju tapi terus-menerus berputar sebagai jalan evolusi untuk melampaui capaian sebelumnya. Setiap capaian selalu memicu siklus kebutuhan baru yang tiada habisnya. Pada puncaknya, siklus ini terjadi dalam kapitalisme mutakhir. Dengan mengandalkan mesin hasrat (desiring machine) sebagai jantungnya, sistem ini bekerja memproduksi hasrat baru dalam rantai produksi dan konsumsi yang terus berulang tanpa akhir. Lintasan demi lintasan dilalui dengan percepatan semakin meninggi. Mobil balap adalah laboratorium bagi masyarakat modern, tempat di mana percepatan, efisiensi, dan inovasi terus dipacu untuk menembus batas baru secara konstan. Gambaran sempurna ihwal percepatan denyut nadi modernitas: dalam arena melingkar tanpa akhir itu, percepatan menjadi kunci untuk memahami laju dunia. Modernitas menjadikan waktu seakan bisa diperpendek. Dorongan konstan untuk lebih cepat, mengalahkan waktu, dan beradaptasi dengan ritme hidup yang serba cepat merupakan tabiat masyarakat modern. Obsesi percepatan terhadap batas waktu terus dipacu tanpa henti. Yang cepat memiliki kekuasaan untuk bertahan, yang lambat akan segera ditinggalkan. ""Hasrat percepatan"" menjadi bagian yang hidup dalam mobilitas manusia modern hari ini. "
I Ketut Putrayasa adalah pematung dan seniman instalasi kontemporer yang meraih gelar Magister Seni Rupa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar pada 2014 Ketertarikannya terhadap seni tumbuh sejak usia dini, ketika ia mulai mempelajari seni ukir kayu dan seni patung. Latar belakang akademik tersebut memperkuat praktik artistiknya yang memadukan keterampilan tradisional dengan pendekatan seni rupa kontemporer. Putrayasa dikenal melalui karya-karya patung dan instalasi berskala besar yang memanfaatkan bambu, logam, dan berbagai material lainnya sebagai medium utama. Praktiknya mengeksplorasi hubungan antara manusia, alam, dan budaya, dengan memadukan simbol-simbol tradisi Bali, isu-isu lingkungan, serta refleksi terhadap dinamika kehidupan kontemporer. Karya-karyanya, seperti Octopus Queen, Pandora Paradise, dan Mother & Child, memperlihatkan perpaduan antara kekuatan visual, eksplorasi material, dan gagasan filosofis yang menjadi ciri khas praktik artistiknya. Sejak 2017, Putrayasa aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran seni di Indonesia, termasuk Manifesto VII: Trans Posisi di Galeri Nasional Indonesia, SKALA: Triennale Patung Indonesia, Art Unlimited di Bandung, Bali Mega Rupa, Arus Terowongan di Solo, serta berbagai pameran di Nuanu Creative City, Museum ARMA, Museum Neka, dan Bentara Budaya Bali.