
2026|Cyanotype, Tinta, Akrilik, Gold Leaf 22K pada Kanvas|200 x 140 x 20 cm
Rehearsing #2 menggunakan citra arsip fotografis kolonial sebagai material untuk menelusuri kembali bagaimana sebuah realitas pernah disusun, direkam, dan diwariskan melalui gambar. Citra-citra tersebut tidak diperlakukan sebagai dokumen yang harus dipertahankan dalam bentuk atau konteks asalnya, tetapi sebagai jejak yang dapat dibongkar dan disusun kembali. Melalui tracing, fragmen fotografis dipindahkan, dipotong, ditumpuk, dan ditempatkan dalam komposisi serta setting visual yang baru. Proses ini menggeser hubungan antara tubuh, ruang, objek, dan lingkungan yang terdapat dalam citra asal. Dengan demikian, perubahan komposisi bukan sekadar perubahan visual, tetapi menjadi cara untuk membuka kemungkinan cerita dan sudut pandang lain dari citra yang sebelumnya telah membawa cara pandang tertentu. Dalam proses tersebut, matahari menjadi kolaborator material yang merekam dan mentransformasikan kembali citra arsip melalui cyanotype. Matahari yang sama yang dahulu menerangi tubuh dan peristiwa yang kemudian hadir sebagai arsip kini kembali bekerja pada jejak citra tersebut. Cahaya tidak hanya menghasilkan reproduksi, tetapi meninggalkan jejak material baru melalui pertemuan antara citra, waktu, material, dan kondisi penciptaan. Rehearsing merujuk pada tindakan mengulang yang menghasilkan perbedaan. Citra yang sama dapat memasuki kondisi yang berbeda, mengalami susunan yang berbeda, dan karena itu menghasilkan kemungkinan pembacaan yang berbeda pula. Pengulangan menjadi cara untuk menguji bagaimana sebuah citra dapat berubah ketika ia dipindahkan dari konteks asalnya dan kembali dibentuk melalui proses artistik. Dalam dialog dengan Border, Threshold, and Beyond, karya ini bekerja di antara arsip dan penciptaan, dokumentasi dan konstruksi, teknologi dan pengetahuan lokal, serta citra yang diwariskan dan citra yang sedang dibentuk. Ruang-antara tersebut bukan sekadar tempat kedua sisi bertemu, tetapi tempat hubungan di antara keduanya dapat berubah dan menghasilkan kemungkinan baru.
Budi Agung Kuswara lulus Program Sarjana Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 2009 ini dikenal karena mengembangkan bahasa visual kontemporer yang berakar pada tradisi lukis Kamasan. Ketelitian garis, kerumitan detail, dan kekayaan narasi yang menjadi ciri khas seni Kamasan diolah kembali dalam karya-karyanya untuk merespons persoalan identitas, memori, relasi sosial, dan dinamika budaya masyarakat Indonesia masa kini. Melalui pendekatan tersebut, Budi memadukan estetika tradisional Nusantara dengan sensibilitas visual kontemporer, menghasilkan karya yang kaya simbol sekaligus reflektif terhadap perubahan sosial. Selain berkarya sebagai seniman, ia merupakan salah satu pendiri Ketemu Project Space di Bali, sebuah ruang seni dan perusahaan sosial yang berfokus pada kolaborasi, pemberdayaan komunitas, dan keterlibatan publik melalui seni. Karya-karyanya telah dipamerkan secara luas dalam pameran tunggal maupun kelompok di Indonesia, Singapura, Malaysia, Jepang, Prancis, Jerman, Inggris, Australia, Meksiko, Taiwan, Italia, Filipina, dan Amerika Serikat. Pameran tunggal pentingnya antara lain Tiba Anak Cucu (2024), Repose: Under The Sun (2023), Residual Memory (2021), dan Arus Berlabuh Kita (2018). Ia juga mengikuti program residensi di Bamboo Curtain Studio, Taiwan; Fukuoka Asian Art Museum, Jepang; dan TAKSU Kuala Lumpur. Karya Budi Agung Kuswara menjadi bagian dari koleksi sejumlah institusi, termasuk Singapore Art Museum, Museum Azman di Malaysia, dan Tumurun Private Museum di Indonesia.