
2026|Media Campuran pada Kanvas|145 x 170 cm
Karya ini merupakan sebuah manifestasi taktil atas krisis ekologi global, di mana medium dan pesan melebur menjadi satu kesatuan. Penggunaan serbuk kayu sebuah material residu dari pohon yang telah ditebang dipilih secara sengaja sebagai simbol fisik dari eksploitasi alam. Melalui rekatan lem dan lapisan cat akrilik, serbuk kayu ini ditransformasikan menjadi tekstur granular menyerupai kulit bumi atau tanah yang mengeras dan retak. Warna hijau yang mendominasi kanvas menjadi sebuah ironi visual: ia merepresentasikan memori tentang kesuburan masa lalu, sekaligus menjadi alarm tentang ekosistem yang kini mengering dan terpecah-belah. Melalui gradasi dari kepadatan yang retak di bagian bawah menuju bintik-bintik halus di bagian atas, karya ini merekam momen kritis bumi yang sedang kehilangan ruang penyamarannya.
Toni Ja'far konsisten mengeksplorasi hubungan antara manusia, alam, dan lingkungan melalui praktik seni lukis dan media campuran. Masa kecilnya yang tumbuh di kawasan pesisir Pasuruan membentuk kepekaan visual sekaligus kesadaran ekologis yang kemudian menjadi fondasi utama dalam kekaryaannya. Ia menempuh pendidikan di Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), tempat pemikiran artistiknya berkembang. Toni aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran seni rupa di tingkat regional maupun nasional. Sepanjang 2024–2025, ia tampil dalam sejumlah pameran, antara lain GOOD TIME dan PERILIPSI di Vinautisme Gallery Surabaya, DERIK #2 di Gedung KUTT Grati, Tarian Langit di Srengenge Art Space, Kota Batu, serta Mini Art Malang (MAM). Pada 2025, karyanya terpilih sebagai finalis Kompetisi Moderasi Beragama di Galeri RJ Katamsi, ISI Yogyakarta. Toni juga secara konsisten berpartisipasi dalam ART JAKARTA, tampil bersama Studio Dinding Luar pada 2024 dan bersama Vinautisme Gallery pada 2025. Karya-karya Toni berangkat dari pengamatan terhadap fenomena alam, objek-objek keseharian, dan dinamika lingkungan hidup. Melalui eksplorasi tekstur, material, dan bahasa visual yang ekspresif, ia menghadirkan refleksi mengenai relasi manusia dengan alam. Praktik artistiknya menempatkan seni tidak hanya sebagai medium estetis, tetapi juga sebagai ruang kontemplasi yang mengajak penonton membangun kesadaran ekologis dan kemanusiaan yang bersifat personal sekaligus universal.