
2026|Akrilik di atas kanvas|120 x 120 cm
Karya ini lahir dari pengalaman ketidak berdayaan fisik yang dibenturkan dengan realitas dan era hiper-informasi. Di satu sisi, raga telah mencapai batasnya sehingga terpaksa mengambil jeda yang tak lagi memiliki daya untuk merespon keadaan. Dalam karya ini figur biru pekat manifestasi dari tubuh yang lumpuh oleh keletihan maupun kondisi yang mengikatnya. Namun ironisnya, jeda fisik ini tidak diikuti oleh jeda mental yang artinya keriuhan justru mengambil alih dalam dunia imajinasi dan ide. Seperti dalam objek yang hadir secara intuitif dengan garis putih dan kawanan burung yang menginvasi setiap ruang bukan hanya merepresentasikan dari imajinasi dan ide yang liar melainkan juga wujud visual dari gempuran informasi, berita dan stimulus media massa yang datang bertubi-tubi tanpa filter. Tumpang tindihnya dalam objek ini menyiratkan tumpukan informasi yang masuk ke dalam kepala sehingga menciptakan kelelahan. Garis merah ialah sebuah ketegangan yang menjadi penjara antara dua figur dan rumah seolah berada dalam satu ruang negosiasi internal sebuah benturan antara realitas terhadap tubuh yang dipaksa diam tak berdaya. Dengan pikiran yang terus dipaksa mencerna kebisingan dunia luar yang tak pernah tidur dan terus tumbuh di alam liar. Dari keadaan itulah tubuh menjadi terbatas namun pikiran melampaui batasnya. Pada akhirnya burung gagak seolah memberikan pembelajaran seperti dalam kisah seseorang yang mati tubuhnya dikubur dalam tanah.
Arif Mulyadi menempuh pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Surabaya pada Program Studi Pendidikan Seni Rupa dengan fokus Seni Rupa Murni. Selain aktif berkarya sebagai seniman, Arif juga terlibat dalam komunitas seni Serbuk Kayu yang berbasis di Surabaya. Praktik artistiknya berfokus pada medium dua dimensi, khususnya lukisan. Dalam karya-karyanya, Arif secara konsisten menghadirkan figur berkepala serigala sebagai simbol yang merepresentasikan identitas personal sekaligus refleksi atas pengalaman hidupnya. Bagi Arif, serigala bukan sekadar citra visual, melainkan metafora tentang naluri dasar manusia, kesetiaan, intuisi, dan hubungan sosial. Figur tersebut juga merefleksikan keseimbangan antara kebutuhan untuk menjadi bagian dari suatu kelompok, sekaligus dorongan untuk mempertahankan kemandirian sebagai individu. Arif melihat sosok serigala sebagai representasi pengalaman personalnya dalam menavigasi ruang antara kebersamaan dan kesendirian. Melalui simbol ini, ia mengeksplorasi tema-tema identitas, relasi sosial, serta dinamika emosional yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Karya-karyanya telah dipresentasikan dalam sejumlah pameran tunggal dan kelompok. Pameran tunggalnya meliputi Habit (2018) dan Kawanan Serigala di Filadelfia Gallery, Surabaya (2025). Ia juga berpartisipasi dalam berbagai pameran seni kontemporer, antara lain Finna Art of the Year, MADYA: Indonesia Contemporary Art New Wave di Surabaya, serta Sumatra Adalah Kita di Smiljan Space, Jakarta (2026).