
2026|Kayu Jati, Besi, Clay Epoxy, Benang, Cat Akrilik, Set Modul MP3, Lampu LED, Motor Synchronous|70 x 70 x 88 cm
Karya instalasi ini mengeksplorasi rumah sebagai ekosistem emosional utama bagi tumbuh kembang anak. Menggunakan metafora pertumbuhan pohon, karya ini menyoroti bahwa potensi tertinggi seorang anak hanya dapat dicapai ketika jiwanya ditopang oleh fondasi rasa aman dan kasih sayang yang mendalam. Rumah hadir bukan sekadar tempat bernaung secara fisik, melainkan semesta yang memberi nutrisi emosional agar benih kehidupan dapat tumbuh dengan kokoh. Secara visual, ketahanan karya ini berpusat pada bagian dasar: jaringan akar putih beraksen merah yang menjalar luas dan kokoh. Akar ini melambangkan jiwa anak yang secara aktif menyerap nutrisi kasih sayang; semakin dalam dan kuat cengkeraman akar tersebut ke tanah emosionalnya, semakin tak tergoyahkan pula fondasi ketahanan diri dan rasa percaya dirinya. Seluruh struktur instalasi ini dirancang untuk berputar secara perlahan, merefleksikan dinamika dunia dan pergerakan zaman yang terus berubah di luar sana. Di tengah pusaran kehidupan yang dinamis tersebut, fondasi rumah tetap menjadi pusat gravitasi yang memeluk jiwa anak agar tak kehilangan arah. Pengalaman visual ini dipadukan secara intim dengan instrumen musik yang disusun dari lanskap suara keseharian rumah—gesekan sapu di lantai, derit pintu yang terbuka, hingga dentingan halus gelas dan piring. Suara-suara biasa ini diolah menjadi irama yang menghangatkan, menghadirkan ingatan kolektif tentang kedamaian dan kehadiran pengasuhan sehari-hari. Melalui perpaduan material tekstil, struktur komposit, kinetika gerak, serta olahan suara dan warna yang kontras, instalasi ini menegaskan keterikatan antara pengasuhan dan pencapaian. Ketika akar jiwa disirami oleh rasa aman dan cinta tanpa syarat, anak akan memiliki keberanian untuk menjangkau impian tertingginya. Karya ini menjadi refleksi visual dan auditori bahwa ketahanan masa depan seorang anak selalu bermula dari akar emosional yang tertanam kuat di dalam rumah.
Ufa Faizah menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Brawijya, kemudian meraih Magister Hukum di Universitas Airlangga. Selama beberapa tahun terakhir, Ufa secara intensif mengembangkan praktik seni lukis cat minyak dengan pendekatan direct painting (alla prima), sebuah metode yang memungkinkannya menghadirkan sapuan spontan sekaligus mempertahankan intensitas ekspresi pada setiap karya. Bahasa visualnya berpusat pada figur boneka yang ditransformasikan dari sekadar objek permainan menjadi metafora yang merepresentasikan emosi, ingatan, dan pengalaman batin manusia. Melalui penataan latar, properti, serta pencahayaan yang dirancang secara cermat, ia membangun ruang-ruang imajinatif yang mengaburkan batas antara realitas dan fantasi.Sejak aktif berpameran pada 2018, Ufa terus memperluas praktik artistiknya melalui berbagai pameran tunggal dan kelompok. Ia menggelar pameran tunggal Lost in Wonderland di Indieart House Yogyakarta (2021), yang kemudian diikuti oleh Mlaku-Mlaku nang Alun-Alun Suroboyo di Balai Pemuda Surabaya (2023), The Icon di Jakarta (2023), Jogja Affordable Art di Yogyakarta (2023), The Beginning di ArtLab Lounge Surabaya (2024). Selain itu, karya-karyanya juga dipresentasikan dalam pameran bersama, antara lain Perupa Muda #6: You Nom It di Yogyakarta (2024), The Grandeur of Classicism Reimmaginari Renaissance di Bandung, SENS OF SELF di Jakarta (2025), dan The Subconscious Room Yogyakarta (2025).