
2026|Kayu Teak dan Tembaga|95 x 61 x 240 cm
Terkadang ketika kita membaca ulang sebuah karya yang telah selesai, kita seperti mengambil suatu kumpulan tertanda pada suatu nampan. Apa dan Kenapa menjadi suatu pertanyaan yang ulang alik di pertanyakan, meskipun sebenarnya tentang “Bagaimana” nya yang lebih tepat di gunakan sebagai rujukan untuk memahami / memaknai suatu karya. Seberapa penting suatu realitas untuk pembentukan “makna” suatu karya? Sementara, hingga kini, ada pertentangan pendapat, biarlah karya itu berbicara sendiri, tanpa kita berusaha mengartikannya. Tidak, kita membutuhkan narasi, kata yang lain, sebuah jendela kecil dibutuhkan sebagai jalan masuk agar pemaknaan atau komunikasi suatu karya dapat terjadi, ujarnya. Baik,untuk karya tiga dimensi ini saya mencoba menggunakan perangkat’ jendela” peristiwa/ kejadian lampau . Dari dari cara ini dapat dikatakan juga bahwa suatu peristiwa atau kejadian lampau ikut berperan bagi pembentukan terjadinya suatu karya beserta pada prosesnya. Ketika kanak kanak, rutin saya berkunjung ke rumah nenek di Surabaya, gang kecil serta tempat hunian padat adalah situasi disana. Bermalam, wajar saja tidur di kamar sempit serta ranjang yang tertutup kelambu untuk menghindari nyamuk yang bersliweran. Menutup kelambu merupakan acara tertanda waktu tidur terkadang dongeng menyertai, itulah awal saya mengenal kelambu, sebentuk layer pembatas ruang dalam dan luar dan ada bayangan samar terlihat ketika ada yang melintas. Seketika antara diri sendiri dan dunia luar menjadi tegas dari tabir yang membatasi. Sebuah almari serta vespa terletak di ruang tamu. Sederet koleksi buku kumpulan koleksi Bung Karno selalu yang menjadi minat saya, entah kenapa, buku tersebut selalu berulang menarik untuk dilihat setiap kali berkunjung kesana. Dan, lukisan-lukisan molek yang selalu bersisa di ingatan meskipun tak terelakan pada beberapa yang lain juga, semacam lukisan tentang “Halaman rumah seniman” atau “lincak” bambu juga. Dan, tentu “ Di depan Kelambu Terbuka” yang terbaca corat coret warnanya. Itu lah awal awal saya mengenal samar tentang kelambu. Sebagai tambahan, berpuluh tahun kemudian, saya membaca dan mengenali Nyai Ontosoroh, sosok tokoh dari karya tulis hebat. Imaginasi tentang sosok tersebut menjadi semakin jelas di kepala apabila tercantol pada idiom visual perempuan, pikir saya kala itu. Lalu, ingatan saya berkelebat pada figur lukisan “ Di depan Kelambu Terbuka” tersebut. Seorang wanita duduk di kursi dengan gerak tubuh yang tak terlihat bergaya lokal, dan matanya tajam melihat. Juga, pilihan kursi bergaya kolonial yang didudukinya, semakin Klop mewakili dia, sang tokoh, Nyai Ontosoroh. Mungkin dari serpihan-serpihan ingatan ini membuat saya menggunakan kain dalam karya saya. Kali ini kain berbentuk tirai yang bukan sekedar penyekat ruang. Ia adalah sebentuk obyek / subyek yang memiliki dua sisi muka dan tak di fungsikan sebagai penyekat antar ruang. Bukan pembatas luar dan dalam; melainkan semacam benda otonom yang punya keleluasan di ruang itu sendiri. Lalu siapa kah tirai tersebut? Tirai yang terbentuk dari sebentuk kain ini? Kain yang dikatakan sebagai kulit kedua manusia ini, Kita melihat sebagai benda yang sering berulang di lepas, dicuci serta di jemur, seakan tubuh yang tertanggalkan lalu terlampir pada suatu hal yang besar. Daur ulang ini semacam perihal yang mencerminkan kefanaan. Ya kain saya analogikan pada kefanaan. Pada kali ini biarlah melalui tirai dengan wujudnya yang mempunyai dua sisi (tanpa muka dan belakang) diharapkan dapat mempertegas tentang suatu pemahaman bahwa kefanaan berdaya luas bagi semua hal serta ia berada/berdiri pada ruang dalam dan luar juga kemarin dan esok.
Ivan Sagita mengembangkan praktik artistik surrealisme yang tidak sekadar mengadopsi tradisi surrealisme Barat, tetapi berakar kuat pada pengalaman budaya Jawa. Melalui figur-figur sunyi, gestur tubuh yang ekspresif, lanskap yang hening, dan simbol-simbol yang kaya makna, ia membangun bahasa visual yang mengungkap dunia batin masyarakat Jawa. Karya-karyanya merefleksikan tema kehidupan, kematian, spiritualitas, ketabahan, serta pergulatan eksistensial manusia. Lulusan Program Studi Seni Lukis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini aktif berpameran sejak akhir 1980-an di berbagai museum, galeri, dan biennale bergengsi di Indonesia maupun mancanegara. Pameran tunggalnya antara lain The Look di Sarang Building, Yogyakarta (2019), They Lay Their Place di Equator Art Projects, Singapura (2014), Final Silence di Pulchri Studio, Den Haag (2011), dan Hidup Bermuatan Mati di CP Artspace, Jakarta (2005). Ia juga berpartisipasi dalam berbagai ajang internasional, termasuk Asia Pacific Triennial, Beijing Biennale, Osaka Triennale, ARTJOG, Changwon International Sculpture Biennale, serta pameran di Australia, Denmark, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Kiprahnya memperoleh berbagai penghargaan, di antaranya dua kali Anugerah Biennale Seni Lukis Jakarta (1987 dan 1989), Silver Medal Osaka Triennale (1996), serta residensi di Vermont Studio Center, Amerika Serikat (2003). Karya menjadi koleksi institusi seni terkemuka di Indonesia dan dunia, termasuk Galeri Nasional Indonesia, National Museum of Singapore, Fukuoka Asian Art Museum, Osaka Foundation of Culture, dan United States Holocaust Memorial Museum di Washington, D.C.