
2024|Akrilik dan Tinta pada Kanvas|150 x 400 cm
Pada suatu malam yang khidmat, Kiai Jembar Manah memanggil murid-muridnya dan menyampaikan renungannya tentang waktu sebagai hamba Tuhan yang setia. "Waktu tidak pernah kurang dan tidak pernah lebih, bahkan sedetik pun. Waktu selalu ada, meskipun tidak dapat digenggam seperti udara. Ketika Tuhan memanggil Muhammad untuk menyampaikan perintah menjalankan shalat, tujuannya adalah untuk menghormati makhluk ilahi yang bernama waktu (al-salat lihurmatti al-waqt). Perintah ini mendorong orang-orang bijak untuk memperhatikan waktu, salah satunya dengan mengamati benda-benda langit seperti yang dilakukan oleh Al-Biruni, seorang cendekiawan dari Persia, yang menciptakan kalender lunar untuk mempermudah shalat sehingga waktu tidak lagi tampak misterius. Dan di Jawa, orang-orang berbakat membangun masjid dari rumah-rumah tradisional, dengan model atap bertingkat sesuai dengan tingkat spirutual manusia. Selain itu, shalat tidak hanya menandai waktu tetapi juga membuka ruang. 'Mahasuci Allah yang menguasai seluruh alam,' guruku Kiai Jembar Manah mengakhiri penjelasannya.
Faisal Kamandobat tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren, ia mengembangkan praktik kreatif yang mempertemukan sastra, seni visual, spiritualitas, serta refleksi atas realitas sosial dan kebudayaan. Latar belakang tersebut membentuk karakter karya-karyanya yang kerap mengeksplorasi hubungan antara manusia, tradisi, alam, dan nilai-nilai kemanusiaan melalui pendekatan yang puitis sekaligus kritis. Di samping aktivitas berkesenian, Faisal juga aktif sebagai peneliti etnografi di Universitas Indonesia. Komitmennya terhadap pendidikan dan pemberdayaan masyarakat diwujudkan melalui pendirian Sanggar Matur Nuwun, sebuah madrasah alternatif yang mengembangkan pembelajaran berbasis komunitas, pelestarian tradisi lokal, serta penguatan nilai-nilai budaya. Melalui ruang ini, ia mendorong lahirnya praktik belajar yang partisipatif dan kontekstual, dengan menempatkan seni dan kebudayaan sebagai sarana membangun kesadaran sosial. "Sanggar Matur Nuwun adalah madrasah alternatif berbasis komunitas yang terletak di komplek Pesantren Karanggedang, Desa Salebu, Majenang, Cilacap. Didirikan oleh Faisal Kamandobat, sanggar ini berfungsi sebagai ruang perjumpaan seni, budaya, dan pengetahuan yang mengintegrasikan pendidikan modern dengan tradisi lokal. Berdiri di atas area bernuansa natural dengan arsitektur khas Jawa, tempat ini menjadi pusat kolaborasi bagi seniman, aktivis, dan masyarakat. Sanggar Matur Nuwun aktif menggerakkan ekosistem kebudayaan melalui berbagai kegiatan, seperti pemutaran film independen (layar tancap), diskusi sastra, hingga forum apresiasi seni. Melalui berbagai program kreatifnya, sanggar ini konsisten merawat dialektika antara tradisi dan modernitas guna memberdayakan generasi muda serta memperkuat ekosistem seni budaya di Cilacap. "