
2025|Stainless Steel, Kayu Teak, dan Plat Besi|115 x 117 x 208 cm
Sentuhan tanpa kita sadari ternyata mempunyai peran yang besar di keseharian kita. menyentuh selain memberikan perasaan tertentu kepada diri kita sendiri, ternyata juga pada pihak / orang yang kita sentuh. Ada sentuhan yg di sukai tetapi ada pula sentuhan yang tak disukai. Ada sentuhan untuk suatu kehormatan dan ada suatu sentuhan kasih sayang.. Dan juga bagaimana suatu bentuk komunikasi yang intens antar sesama pada kebudayaan tertentu akan terlihat dari bagaimana suatu sentuhan itu. Berjabatan tangan atau sentuhan antar pipi merupakan suatu bentuk komunikasi yang mencerminkan keeratan dan keterbukaan. Serta dapat juga sebagai suatu ungkapan penerimaan pihak lainnya untuk dirinya. Bayi akan berasa nyaman dan merasakan kedekatan terhadap ibunya lewat sentuhan pula. ketika bayi menangis seperti biasanya akan terdiam ketika di sentuh dan di peluk ibunya.. Demikian lah, beberapa contoh tentang peran pentingnya sentuhan di kehidupan kita. Pada karya ini, Saya hendak mengungkapkan tentang perihal tersebut serta kaitan dan penting nya dalam kaitannya dengan suatu komunikasi. -Terlihat sepasang tangan terayun kedepan gerakan jarinya tidak sekedar lurus saja, sedikit terlipat mengisyaratkan bahwa ia dapat bersentuhan dengan orang lain.. ia ingin menjalin komunikasi-. Dari tema tersebut di atas, judulnya yang saya beri demikian : “ Sentuhan “
Ivan Sagita mengembangkan praktik artistik surrealisme yang tidak sekadar mengadopsi tradisi surrealisme Barat, tetapi berakar kuat pada pengalaman budaya Jawa. Melalui figur-figur sunyi, gestur tubuh yang ekspresif, lanskap yang hening, dan simbol-simbol yang kaya makna, ia membangun bahasa visual yang mengungkap dunia batin masyarakat Jawa. Karya-karyanya merefleksikan tema kehidupan, kematian, spiritualitas, ketabahan, serta pergulatan eksistensial manusia. Lulusan Program Studi Seni Lukis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini aktif berpameran sejak akhir 1980-an di berbagai museum, galeri, dan biennale bergengsi di Indonesia maupun mancanegara. Pameran tunggalnya antara lain The Look di Sarang Building, Yogyakarta (2019), They Lay Their Place di Equator Art Projects, Singapura (2014), Final Silence di Pulchri Studio, Den Haag (2011), dan Hidup Bermuatan Mati di CP Artspace, Jakarta (2005). Ia juga berpartisipasi dalam berbagai ajang internasional, termasuk Asia Pacific Triennial, Beijing Biennale, Osaka Triennale, ARTJOG, Changwon International Sculpture Biennale, serta pameran di Australia, Denmark, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Kiprahnya memperoleh berbagai penghargaan, di antaranya dua kali Anugerah Biennale Seni Lukis Jakarta (1987 dan 1989), Silver Medal Osaka Triennale (1996), serta residensi di Vermont Studio Center, Amerika Serikat (2003). Karya menjadi koleksi institusi seni terkemuka di Indonesia dan dunia, termasuk Galeri Nasional Indonesia, National Museum of Singapore, Fukuoka Asian Art Museum, Osaka Foundation of Culture, dan United States Holocaust Memorial Museum di Washington, D.C.