
2024|Casted Mirror & Pigmented Cement|each 20 x 20 cm (25 pcs)
Karya ini berawal dari sebuah accident. Pada tahun 2024, sebuah cermin jatuh dan pecah di lantai rumah saya. Reaksi pertama saya bersifat instingtif: saya segera mengumpulkan pecahan-pecahannya dengan tangan kosong, seolah-olah saya harus segera memperbaiki sesuatu, meskipun tidak ada orang lain di rumah. Baru ketika tangan saya mulai berdarah, saya berhenti dan menyadari betapa tajamnya sisi-sisi pecahan tersebut. Setelah membersihkan luka, saya kembali melihat pecahan-pecahan itu dan tertarik pada keindahannya yang tidak terduga. Cermin yang pecah membentuk geometri tak beraturan yang menangkap dan memantulkan cahaya ke berbagai arah di lantai. Apa yang awalnya merupakan momen keterkejutan perlahan berubah menjadi momen pengamatan. Kemudian saya mengumpulkan pecahan tersebut kembali kali ini dengan lebih hati-hati, menggunakan sarung tangan dan mencetaknya dalam beton. Dipasang di ruang pamer, pecahan-pecahan cermin tersebut membentuk permukaan reflektif yang imersif, di mana cahaya, gerakan, dan kehadiran tubuh terus-menerus mengubah pengalaman ruang. Karya ini mengeksplorasi cermin bukan hanya sebagai objek refleksi, tetapi sebagai material yang memecah persepsi. Ketika pecah, cermin tidak lagi menghadirkan satu citra diri yang utuh, melainkan menghasilkan berbagai sudut pandang yang terfragmentasi dan tidak stabil. Instalasi ini mengundang pengunjung untuk mengalami ruang melalui fragmentasi, di mana refleksi menjadi pengalaman yang sekaligus bersifat fisik dan psikologis. Praktik saya sering kali berfokus pada hubungan antara tubuh, ruang, dan memori. Saya tertarik pada bagaimana lingkungan fisik menyimpan jejak pengalaman emosional, serta bagaimana tubuh merespons jejak tersebut bahkan sebelum pikiran sadar memprosesnya. Dalam konteks ini, karya ini juga merefleksikan gagasan tentang trauma—yang berasal dari kata Yunani yang berarti “luka”—sebagai sesuatu yang tersimpan dalam memori tubuh. Pembacaan saya terhadap karya Gabor Maté turut memperdalam refleksi ini. Ia menjelaskan bahwa reaksi manusia terhadap peristiwa yang memicu sering kali bukan berasal dari diri yang sadar di masa kini, melainkan dari pengalaman emosional yang tersimpan dari masa lalu. Dalam konteks ini, tindakan saya yang secara spontan mengumpulkan pecahan cermin dapat dipahami sebagai respons yang terbentuk dari memori tubuh tersebut. Respons personal ini juga tidak terlepas dari struktur sejarah yang lebih luas. Sikap terhadap disiplin, kerja, dan ketahanan dalam masyarakat Indonesia tidak dapat dipisahkan dari warisan sistem kolonial, seperti Kerja Rodi pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie dan kemudian pemerintahan kolonial Hindia Belanda, serta Romusha selama Pendudukan Jepang di Hindia Belanda. Sejarah ini membentuk budaya bertahan hidup, urgensi, dan kerja tanpa henti yang dalam banyak hal masih terasa hingga hari ini. Melalui transformasi pecahan cermin menjadi sebuah permukaan arsitektural, instalasi ini memposisikan refleksi sebagai material sekaligus metafora. Cermin yang terfragmentasi menjadi perangkat spasial yang mengungkap ketidakstabilan persepsi, sekaligus memperlihatkan bagaimana sejarah personal dan kolektif tetap tertanam dalam tubuh. Alih-alih menawarkan narasi yang tetap, karya ini menciptakan medan refleksi yang terus berubah, di mana pengunjung dapat mengalami kehadiran diri mereka sendiri sebagai sesuatu yang terpecah dan bergerak di dalam ruang.
Bunga Yuridespita menyelesaikan pendidikan Sarjana Arsitektur di Universitas Pelita Harapan pada 2013, kemudian meraih gelar Magister Seni Rupa bidang Seni Lukis dari Institut Teknologi Bandung pada 2017. Sejak 2024, ia melanjutkan studi Magister Fine Art di Chelsea College of Arts, University of the Arts London. Latar belakang arsitektur memberikan pengaruh kuat terhadap praktik artistiknya, terutama dalam eksplorasi ruang, struktur, dan hubungan antara manusia dengan lingkungan. Melalui lukisan, Bunga menghadirkan pengalaman visual yang reflektif dengan menggabungkan unsur memori, spiritualitas, dan ruang kontemplatif dalam bahasa visual yang puitis. Ia telah menggelar pameran tunggal Rubanah di Rubanah Art Space, Jakarta (2019), serta Common Sanctum di Salihara Arts Center, Jakarta (2024). Selain itu, karya-karyanya ditampilkan dalam berbagai pameran kelompok di Indonesia maupun mancanegara, termasuk ArtJog, Art Jakarta, Art Jakarta Garden, Heart of Gold di Beijing, Shifting Grounds di London, serta berbagai pameran di Goldsmiths London, Dia.Lo.Gue Artspace, Srisasanti Gallery, dan Ruang Dini Gallery. Bunga juga berkolaborasi dalam pameran dengan berbagai institusi dan merek, seperti Bosch Home Appliances (2025), Land Rover Indonesia, Jakarta Fashion Week, dan Weatherby's Private Bank.