
2026|Cat Minyak di Atas Kanvas|50 x 60 cm
Mencium lalu menyerahkan Tidak kah kalimat ini tepat sebagai pembuka untuk melihat situasi sekarang? Dulu, ciuman sebagai tertanda kasih, perhatian dan kebersamaan. Ciuman, kini telah berganti fungsi, semacam kode untuk suatu tujuan yang sebaliknya, dan merupakan jalan untuk menyerahkan. Ciuman berujung pada pengkhianatan, sembilu didapat dari hal yang sebaliknya, tak seharusnya yang ia terima. Ini memang adalah paradoks kita saat ini dan, bahkan rasa sakit buah khianat justru sudah tak lagi terasa, seakan telah menjadi kebal terhadap luka yang seharusnya melukai.
Ivan Sagita mengembangkan praktik artistik surrealisme yang tidak sekadar mengadopsi tradisi surrealisme Barat, tetapi berakar kuat pada pengalaman budaya Jawa. Melalui figur-figur sunyi, gestur tubuh yang ekspresif, lanskap yang hening, dan simbol-simbol yang kaya makna, ia membangun bahasa visual yang mengungkap dunia batin masyarakat Jawa. Karya-karyanya merefleksikan tema kehidupan, kematian, spiritualitas, ketabahan, serta pergulatan eksistensial manusia. Lulusan Program Studi Seni Lukis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini aktif berpameran sejak akhir 1980-an di berbagai museum, galeri, dan biennale bergengsi di Indonesia maupun mancanegara. Pameran tunggalnya antara lain The Look di Sarang Building, Yogyakarta (2019), They Lay Their Place di Equator Art Projects, Singapura (2014), Final Silence di Pulchri Studio, Den Haag (2011), dan Hidup Bermuatan Mati di CP Artspace, Jakarta (2005). Ia juga berpartisipasi dalam berbagai ajang internasional, termasuk Asia Pacific Triennial, Beijing Biennale, Osaka Triennale, ARTJOG, Changwon International Sculpture Biennale, serta pameran di Australia, Denmark, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Kiprahnya memperoleh berbagai penghargaan, di antaranya dua kali Anugerah Biennale Seni Lukis Jakarta (1987 dan 1989), Silver Medal Osaka Triennale (1996), serta residensi di Vermont Studio Center, Amerika Serikat (2003). Karya menjadi koleksi institusi seni terkemuka di Indonesia dan dunia, termasuk Galeri Nasional Indonesia, National Museum of Singapore, Fukuoka Asian Art Museum, Osaka Foundation of Culture, dan United States Holocaust Memorial Museum di Washington, D.C.