
2026|Tinta Akrilik, Cat Akrilik, Emas dan Perak pada Batu Alam Press pada Serat|122 x 244 cm
Menyatukan sejarah dan masa kini dalam sebuah lanskap imajiner, tempat konflik-konflik kuno berulang dalam wujud baru. Sekelompok pasukan yang terinspirasi oleh seni lukis miniatur Persia bergerak menuju kelompok yang bersiap mempertahankan diri. Di atas mereka, seseorang sedang berswafoto, menangkap masa lalu yang jauh ke dalam dunia kita saat ini yang dipenuhi layar dan pengamatan tiada henti. Karya ini merefleksikan dunia masa kini, di mana berita tentang konflik dan penderitaan menjangkau kita melalui layar gawai, sementara kehidupan terus berjalan di sekeliling kita. Di antara kedua belah pihak terbentang ruang biru luas bagaikan samudra sekaligus langit, yaitu sebuah ruang penuh kemungkinan dimana konflik, ingatan, dan pengalaman manusia bertemu. Matahari, bulan, serta tujuh bintang besar dan tujuh bintang kecil menghadirkan suasana hening di atas pergulatan manusia, sementara pegunungan penuh warna menampilkan wajah-wajah manusia dan hewan, sebagaimana alam itu sendiri menyimpan ingatan akan kisah-kisah kita. Karya ini bukanlah kisah tentang perang, melainkan kisah tentang apa yang tersisa setelah segala hiruk-pikuk mereda. Sisa-sisa ingatan, keindahan, harapan, dan kemanusiaan yang kita bagi bersama. Ruang biru di antara kedua belah pihak menjadi tempat di mana keterpisahan berubah menjadi kesalingbergantungan, dan konflik dapat bertransformasi menjadi refleksi. Pegunungan, bintang-bintang, dan langit mengisyaratkan bahwa kehidupan terus berlanjut melampaui segala perpecahan kita. Di dunia yang penuh ketidakpastian ini, gaung yang tertinggal bukanlah suara peperangan, melainkan kemungkinan akan kedamaian, rasa takjub, dan harapan. Dunia kuno dan kontemporer berdampingan di bawah langit yang sama, menyiratkan bahwa di balik hiruk-pikuk sejarah, sesuatu yang lembut tetap bertahan. ingatan menjelma menjadi kebijaksanaan, jarak berubah menjadi keterhubungan, dan konflik meninggalkan gaung harapan.
Amin Taasha adalah perupa asal komunitas Hazara, kelompok etnis minoritas berbahasa Persia di Afghanistan. Saat ini ia menetap dan berkarya di Yogyakarta, Indonesia. Pada tahun 2000, akibat perang dan konflik yang melanda Afghanistan, Taasha bersama keluarganya terpaksa meninggalkan Bamiyan dan pindah ke Kabul. Pengalaman perpindahan, identitas budaya, dan memori kolektif menjadi bagian penting yang membentuk perjalanan hidup dan praktik artistiknya. Karya-karya Taasha banyak terinspirasi oleh puisi dan sastra Persia, terutama karya penyair Hafez dari Shiraz, serta tradisi seni lukis miniatur klasik. Melalui simbol, metafora, dan motif visual yang berakar pada kebudayaan Persia, ia mengeksplorasi tema-tema cinta, spiritualitas, kerinduan, dan pengalaman kemanusiaan. Pada tahun 2013, ia datang ke Indonesia melalui program beasiswa Darmasiswa di Universitas Negeri Semarang sebelum melanjutkan studi Seni Rupa Murni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan meraih gelar sarjana pada tahun 2018. Karya-karya Taasha telah ditampilkan dalam berbagai pameran penting di tingkat nasional maupun internasional, antara lain Art Amongst War: Visual Culture in Afghanistan 1979–2014 di TCNJ Art Gallery, Amerika Serikat; Dhaka Art Summit di Bangladesh; serta The 10th Asia Pacific Triennial of Contemporary Art di Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art, Australia. Pada tahun 2022, ia menerima Honorable Mention dalam International Art Contest on Recognizing Minority Artists Working on Stateless Themes yang diselenggarakan oleh UNHCR di Jenewa, Swiss.