
2026|Transparent sticker, digital C-print, LCD, 3D printed PETG on zinc aluminium sheet|60 x 40 cm
The Garden of Hybridization menghadirkan sebuah landskap visual di mana bentuk-bentuk biomorfis hasil generasi AI bertemu dengan fragmen material teknologi seperti PCB dan komponen elektronik. Melalui pendekatan kolase, elemen-elemen ini disusun secara berlapis menggunakan cetak digital dan stiker transparan yang menempel dan saling menindih, menciptakan hubungan yang tidak sepenuhnya stabil antara gambar dan permukaan. Karya ini memandang AI bukan sekadar alat, melainkan sebagai mitra spekulatif dalam membayangkan kemungkinan hibridasi antar spesies, sebuah cara untuk memperluas imajinasi tentang kehidupan yang melampaui batas manusia. Dalam konteks ini, pendekatan posthuman membuka ruang untuk melihat manusia sebagai bagian dari jaringan relasi yang lebih luas, di mana entitas biologis, teknologi, dan sistem lainnya saling berinteraksi dan bernegosiasi. Alih-alih menghadirkan harmoni, The Garden of Hybridization menawarkan sebuah “taman” yang terbentuk dari pertemuan yang kompleks, di mana berbagai bentuk kehidupan dan sistem saling menempel, berlapis, dan terus berubah.
Bernado Udayana a.k.a. Multispesies menyelesaikan pendidikan sarjana di Institut Seni Indonesia Surakarta (2022) dan meraih gelar magister dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta (2025). Praktik interdisiplinernya berada di persimpangan antara realitas digital dan alam, dengan fokus pada relasi interspesies, ekologi spekulatif, serta koeksistensi antara manusia, teknologi, dan entitas non-manusia. Melalui instalasi, bio art, sound art, dan berbagai media hibrida, ia membangun narasi dan lingkungan spekulatif yang mengaburkan batas antara organisme, mesin, dan imajinasi ekologis. Karya-karyanya menyoroti isu keberlanjutan dan simbiosis antara sistem buatan manusia dan sistem ekologis. Dengan pendekatan pseudo-saintifik dan perspektif posthuman, praktiknya mengeksplorasi kemungkinan bentuk kehidupan, kesadaran, dan relasi baru dalam ekologi yang terus berubah. Sejak 2026, riset dan eksplorasi artistiknya berkembang ke wilayah persinggungan antara kecerdasan buatan dan imajinasi mengenai entitas artifisial. Melalui karya-karyanya, ia mengajak publik mempertimbangkan AI sebagai medium kreatif yang membuka kemungkinan dunia-dunia baru serta lahirnya bentuk-bentuk puisi yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Ia merupakan Finalis Finna Art Prize 2025 serta penerima Prabangkara Award (2020). Karyanya telah dipresentasikan dalam berbagai pameran dan festival, antara lain ARTJOG: Ars Longa – Generatio (2026), Anyang Nuit Blanche Festival, Korea Selatan (2025), Nandur Srawung (2025), Art Jakarta (2024), ICAD (2024), dan Selasar Sunaryo Art Space (2025).