
2026|Cetak Intaglio pada Kertas|55 x 55 cm
Anatomy of Ruin Anatomy of Ruin adalah karya triptik yang mengulas tiga wajah kemanusiaan dalam situasi perang dan invasi. Ketiga panel saling terhubung sebagai narasi tentang bagaimana konflik lahir, bagaimana ia menghancurkan, dan bagaimana dampaknya menjalar melampaui medan pertempuran. Menarasikan anatomi kehancuran yang tidak hanya menimpa tubuh dan ruang fisik, tetapi juga kesadaran manusia. Panel pertama, The Lord of Endless Appetite, mewakili pihak agresor—sosok yang digerakkan oleh kerakusan, ambisi, dan hasrat akan dominasi. Kepala yang menjelma reruntuhan menjadi metafora kekuasaan yang terus melahap kehidupan demi memenuhi nafsu yang tak pernah selesai. Perang hadir sebagai konsekuensi dari kerakusan yang mengorbankan kemanusiaan demi kepentingan segelintir pihak. Panel kedua, Cage Song, merepresentasikan mereka yang terinvasi dan terjajah. Bentuk sangkar yang menyatu dengan jaringan organik tubuh menggambarkan kehidupan yang terkurung oleh ketakutan, keterbatasan, kelaparan, serta hilangnya kebebasan. Dalam situasi ini, manusia tidak lagi memiliki ruang untuk menentukan nasibnya sendiri; mereka hidup dalam pengekangan yang terus mengikis martabat dan harapan. Sementara itu, Brittle Freedom menghadirkan perspektif pihak ketiga: mereka yang tidak berada langsung di garis konflik, tetapi tetap merasakan getaran krisis yang ditimbulkannya. Kebebasan yang mereka miliki tampak utuh, namun sesungguhnya rapuh dan semu. Kekosongan pada figur menjadi simbol masyarakat modern yang terbelenggu oleh ketakutan, propaganda, ketergantungan, dan berbagai konstruksi sosial yang membatasi cara berpikir serta bertindak. Sebagai satu kesatuan, Anatomy of Ruin menunjukkan bahwa perang tidak hanya menciptakan pemenang dan korban. Ia juga melahirkan manusia-manusia yang hidup dalam ilusi kebebasan. Triptik ini menjadi refleksi tentang bagaimana kerakusan, penindasan, dan belenggu yang tak kasatmata bersama-sama membentuk lanskap kehancuran kemanusiaan di dunia modern.
Fakri Syahrani adalah seniman grafis yang menempuh pendidikan Seni Murni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 2007–2013, sebuah lingkungan akademik yang turut membentuk arah praktik artistiknya. Sejak awal berkarya, Fakri menjadikan seni grafis, khususnya teknik etsa, sebagai medium utama untuk mengeksplorasi pengalaman personal sekaligus merefleksikan berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat kontemporer. Dalam praktik artistiknya, Fakri banyak mengangkat tema identitas, kebebasan, relasi antarmanusia, sistem nilai, dan isu-isu kemanusiaan. Figur manusia menjadi elemen dominan dalam karya-karyanya, diolah melalui bahasa visual yang ekspresif, reflektif, dan kaya tekstur. Melalui karakter garis, bayangan, dan detail khas teknik cetak, ia membangun narasi yang menghadirkan ketegangan antara pengalaman individu dan realitas sosial. Pendekatan tersebut menjadikan karya-karyanya tidak hanya memiliki kekuatan estetik, tetapi juga mengundang pembacaan kritis terhadap dinamika kehidupan modern. Fakri menggelar pameran tunggal Metafor Tentang Diri di Gedung Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta pada 2013. Selain itu, ia aktif mengikuti berbagai pameran bersama, di antaranya Tarung Grafis di Lawangwangi Artspace Bandung, Nandur Srawung IX, SIVA International Art on Paper Exhibition, Trample Print Miracle Print, Yogyakarta, Pekan Seni Grafis Yogyakarta, Print Parade, serta FINNA Art Award di Surabaya.