
2026|Akrilik di atas kanvas|Ø 120 cm
Karya ini merupakan Sisi Lain dari bagian dalam diri, Seperti Saat Batas-Batas Melebur. Antara insting, intuisi, dan imajinasi. Ada sesuatu yang otomatis kita lakukan jika kita merasa cocok dengan apa yang sedang ingin di ungkapkan. seperti kami pasangan beda agama, namun sama sama menutup mata ketika berdoa, yang berarti Tidak melihat-Nya itu bukan berarti tidak percaya. Atau Mengasah pisau dengan mengikis besinya, benar ada sisi yang berkurang namun bukan berarti rugi. Ada pengalaman unik terjadi kepadaku ketika berniat membeli buku untuk belajar, tetapi lebih antusias mengoleksinya daripada membacanya. Hal-hal sederhana semacam ini menunjukkan bahwa apa yang tampak bertentangan tidak selalu benar-benar bertentangan. Pada bagian atas lukisan, terdapat grid yang jika diperhatikan akan menghadirkan pengalaman visual seolah-olah ada titik-titik yang melompat di tengah persimpangannya. Padahal, titik-titik tersebut sebenarnya tidak pernah ada. Ia muncul melalui cara mata dan pikiran kita membaca pertemuan garis. Sementara itu, pada bagian tengah hingga bawah terdapat titik-titik nyata berukuran besar dengan tekstur dan warna yang samar. Titik-titik tersebut benar-benar ada, tetapi justru diam dan tidak berlarian. Perbedaan antara keduanya menjadi penting, sesuatu yang tidak ada dapat terasa nyata, sementara sesuatu yang nyata belum tentu menjadi pusat perhatian kita. Bagiku “Ketiadaan bentuk juga bukan berarti ketiadaan makna.” Lukisan ini merupakan ungkapan dari banyak hal dalam kehidupan, seperti cinta, kepercayaan, rasa takut, penilaian, harapan, bahkan keyakinan. Tidak semuanya dapat disentuh, tetapi semuanya dapat memengaruhi cara kita menjalani hidup yang dibentuk oleh cara kita melihatnya. Seperti “Seorang kolektor dan seniman dapat berbicara dan berteman tanpa jarak. Namun ketika status kekayaan, profesi, atau posisi sosial dianggap sebagai pembatas, jarak yang semula tidak ada menjadi terasa nyata.
Friski Jayantoro menyelesaikan pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Malang (UM) dan melanjutkan studi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Sejak 2019, Friski menjadi salah satu penggagas kolektif seni Pintu Belakang, sebuah ruang kolaborasi yang aktif mendorong praktik seni kontemporer di Jawa Timur. Praktik artistiknya berpusat pada lukisan abstrak dan sesekali instalasi yang menampilkan kesan minimalis, elegan, dan kontemplatif. Sebagai pribadi yang mengidentifikasi dirinya sebagai seorang introvert, Friski memandang seni sebagai medium untuk mendengar, mengamati, dan merefleksikan kehidupan, alih-alih sekadar menyampaikan pernyataan secara verbal. Karya-karyanya lahir dari perenungan terhadap pengalaman sehari-hari, dinamika batin, dan berbagai persoalan kehidupan yang kemudian diolah menjadi bahasa visual yang puitis dan terbuka terhadap beragam tafsir. Sejak menggelar pameran tunggal Immunity di Relief Gallery, Rayz UMM Hotel, Malang (2022), Friski aktif mengikuti berbagai pameran nasional di galeri, museum, dan art fair bergengsi. Karyanya telah dipresentasikan dalam Manifesto di Galeri Nasional Indonesia, Biennale Jawa Timur IX, Selasar Sunaryo Art Space, ArtSubs, Arch.id, serta berbagai pameran di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, dan Jerman. Sebelumnya, ia juga meraih sejumlah penghargaan dalam kompetisi seni lukis dan graffiti.