
2026|Multipleks dan Akrilik di Atas Kanvas|236,5 x 100 cm
Karya ini menggambarkan penderitaan dan krisis ekologi yang terus melanda Indonesia, mulai dari maraknya kebakaran hutan hingga bencana banjir yang merenggut tatanan lingkungan. Visualisasi roda rantai ekskavator yang mendominasi bidang karya berdiri sebagai simbol keangkuhan serta keserakahan kekuasaan oligarki yang tanpa henti melindas alam demi eksploitasi. Di tengah jeratan besi dingin roda rantai tersebut, sepasang tangan orangutan tampak terpasung rapat. Pemasungan ini menegaskan ketidakberdayaan para penghuni hutan yang hak hidup dan habitatnya dirampas secara paksa, menjadikan mereka korban tak bersuara dalam pusaran industri ekstraktif. Namun, di salah satu jemarinya yang terikat, terselip segenggam bunga rumput yang sederhana. Bunga ini menjadi simbol ketulusan dan persembahan rasa cinta terakhir kepada sesama penghuni bumi di tengah benteng kekerasan mekanis. Melalui kontras tajam antara kerasnya rantai ekskavator dan kelembutan bunga rumput, THE PART OF TRAGEDY memperlihatkan sebuah ironi yang memilukan: ketika keangkuhan kekuasaan menghancurkan ruang hidup, alam dan para penghuninya justru tetap menawarkan cinta, meski dalam keadaan terikat dan tak berdaya.
Romi Armon merupakan lulusan Seni Rupa Universitas Negeri Padang. Perjalanan keseniannya telah berlangsung sejak awal 2000-an, dengan keterlibatan aktif dalam berbagai pameran seni rupa di Sumatera Barat, Yogyakarta, Jakarta, serta sejumlah kota di Indonesia dan Malaysia. Praktik artistik Romi berkembang melalui persinggungan antara seni rupa kontemporer, pengalaman personal, serta konteks sosial dan budaya Minangkabau. Keterlibatannya dalam berbagai proyek dan komunitas seni, termasuk Komunitas Seni Belanak dan TAMBO Art Center, memperlihatkan perhatiannya terhadap hubungan antara praktik seni, tradisi, dan kehidupan masyarakat. Sejak 2002, ia telah mengikuti berbagai pameran, antara lain Mempertimbangkan Tradisi di Galeri Nasional Indonesia (2004), Urban/Culture dalam 2nd CP Open Biennale di Museum Bank Indonesia, Jakarta (2005), Manifesto di Galeri Nasional Indonesia (2008), serta Tribute to Soedjojono di Canna Gallery, Jakarta (2010). Ia juga berpartisipasi dalam ARTJOG 12 (2012), Sumatra Biennale (2014), Bakaba, Tambo #3 KAPACAK, dan Matrilini di berbagai ruang seni Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, Romi Armon semakin aktif mengembangkan proyek berbasis komunitas dan komisi karya. Karyanya hadir dalam Jalur Rempah, Festival Pusako, serta sejumlah proyek TAMBO Art Center. Pada 2024 ia mengerjakan karya komisi untuk Gelanggang Arang WTBOS di Bandara Internasional Minangkabau. Pada 2026, ia kembali berpartisipasi dalam pameran Manapak Jajak di Sakato Art Community Art Space, Yogyakarta.