
2026|Akrilik, resin, figurine di atas kanvas|150 x 120 cm
Karya ini menghadirkan laut sebagai ruang ambang yang berada di antara kepastian dan ketidakpastian. Hamparan laut biru yang luas mendominasi komposisi, dikelilingi formasi terumbu karang di bagian tepinya, sementara dua figur berenang menuju lautan terbuka, menjauh dari terumbu yang hadir sebagai struktur hidup—ruang perlindungan dan orientasi. Laut dalam karya ini tidak diposisikan sekadar sebagai lanskap, melainkan sebagai wilayah psikologis dan emosional; sebuah ruang-antara tempat manusia berada dalam kondisi transisi, ketidakpastian, dan pergerakan yang terus berlangsung. Permukaan lukisan dibangun melalui tekstur tebal dan bentuk-bentuk menyerupai gelombang, menghadirkan sensasi hanyut, mengalir, dan ketidakstabilan. Gerak ombak menjadi representasi dari bagaimana manusia dibentuk dan dipengaruhi secara emosional oleh ketidakpastian yang mereka lalui. Ombak tidak hadir sebagai elemen pasif, melainkan sebagai kekuatan yang lebih besar daripada figur-figur di dalamnya—membawa ketegangan sekaligus penyerahan diri secara bersamaan. Kedua figur tersebut tampak berenang dengan intensitas dan keberanian, namun pada saat yang sama tetap berada dalam kondisi rentan, membiarkan dirinya terbawa oleh situasi yang tidak sepenuhnya dapat mereka kendalikan. Terumbu karang dalam karya ini berfungsi sebagai “arsitektur kehidupan”: ruang perlindungan, keterhubungan, dan keberlanjutan ekologis. Ketika kedua figur bergerak menjauh darinya, muncul pertanyaan yang dibiarkan terbuka: apakah mereka sedang menuju perlindungan lain, atau justru menuju laut yang lebih dalam dan asing? Karya ini sengaja mempertahankan ketidakpastian tersebut sebagai refleksi atas kemampuan manusia untuk terus bergerak maju meski tanpa mengetahui sepenuhnya apa yang menanti di hadapan mereka. Melalui skala, tekstur, dan keluasan ruang, penonton diajak untuk membayangkan dirinya sebagai salah satu figur yang berenang di tengah laut tersebut. Dalam ruang liminal ini, laut menjadi tempat di mana batas antara masa lalu, masa kini, dan masa depan perlahan melebur, sementara ketidakpastian berubah dari sesuatu yang ditakuti menjadi sesuatu yang dihuni.
Beauty Clarabelle mempunyai latar belakang pendidikan Desain Interior dan Arsitektur. Praktik artistiknya mengeksplorasi hubungan antara komposisi ruang, materialitas, dan kehadiran manusia melalui ekspresi melukis yang bersifat taktil. Menggunakan teknik impasto tebal yang mengingatkan pada dekorasi kue (cake piping), ia menciptakan permukaan yang kaya tekstur dan menonjolkan kedalaman, kualitas sentuhan, serta ekspresi visual, sehingga cat tidak hanya berfungsi sebagai medium, tetapi juga menjadi lingkungan visual yang imersif. Karya-karyanya menghadirkan figur manusia mini yang ditempatkan dalam lanskap imajiner maupun setting arsitektural, mulai dari pantai, persawahan, pegunungan, dan lingkungan tropis hingga bangunan perkotaan serta ruang-ruang hasil konstruksi manusia. Melalui berbagai lanskap tersebut, Beauty mengeksplorasi tema-tema peradaban, ketangguhan, ketekunan, keberanian, pencapaian kesuksesan, serta perjalanan kehidupan. Dipengaruhi oleh perspektif arsitektur dan nuansa emosional, lukisan-lukisannya mengundang penonton memasuki ruang kontemplatif yang mengaburkan batas antara realitas dan imajinasi. Karya-karyanya menelaah hubungan antara pengalaman manusia dan lingkungan yang membentuk transformasi emosional maupun personal. Beauty menerima penghargaan The Selected Works Award dalam The 2nd Competition F Award yang diselenggarakan oleh Furukawa Art Museum dan berkesempatan memamerkan karyanya di Jepang. Pada tahun 2020, ia memenangkan sebuah pameran hasil open call di Inggris. Karyanya juga pernah dimuat dalam sebuah publikasi yang berbasis di San Francisco. Terbaru, ia terpilih sebagai salah satu seniman dalam J+ Art Awards 2025 x ARTOTEL.