
2026|diameter 250 x 250 cm
UFOLOGIC UAP, Ruang-Waktu, Dimensi, Persepsi, dan Budaya Venzha Christ dan Indonesia Space Science Society (ISSS) UFOLOGIC merupakan proyek eksperimental dan kolaboratif yang mengeksplorasi hubungan antara Unidentified Anomalous Phenomena (UAP), struktur ruang-waktu, kemungkinan dimensi tambahan, hipotesis parallel universe, sistem deteksi akustik, serta konstruksi persepsi dan budaya manusia. Proyek ini berangkat dari pertanyaan mengenai apakah fenomena yang dikategorikan sebagai UAP sepenuhnya berada dalam kerangka ruang-waktu yang dapat kita observasi, atau secara hipotetis merupakan manifestasi maupun bentuk interaksi dengan struktur realitas yang berada di luar batas pengalaman manusia. Dalam Teori Relativitas Khusus dan Relativitas Umum Einstein, ruang dan waktu dipahami sebagai satu kesatuan kontinuum empat dimensi (3+1 dimensional space) yang bersifat dinamis, dengan geometri yang dipengaruhi oleh distribusi massa dan energi. Kerangka ini menjadi dasar untuk mempertanyakan bagaimana suatu fenomena dapat diamati ketika berinteraksi dengan struktur ruang-waktu tertentu. Perspektif tersebut kemudian diperluas melalui beberapa formulasi String Theory, yang secara matematis memungkinkan keberadaan dimensi tambahan. Secara spekulatif, apabila suatu fenomena berdimensi lebih tinggi berinteraksi dengan ruang-waktu kita, manusia mungkin tidak dapat mengamati keseluruhan fenomena tersebut, melainkan hanya menangkap proyeksi, irisan, atau jejak interaksi fisiknya. Konsep alam semesta paralel (parallel universe) memperluas spekulasi tersebut ke ranah ontologis, yaitu kemungkinan bahwa alam semesta yang kita alami bukan merupakan satu-satunya domain realitas. Konsep ini memiliki berbagai formulasi dalam fisika teoretis dan kosmologi, tetapi hingga saat ini belum terdapat bukti empiris bahwa UAP berasal dari alam semesta lain. Dalam UFOLOGIC, alam semesta paralel dan dimensi tambahan tidak diperlakukan sebagai konsep yang identik, melainkan sebagai dua kemungkinan teoritis dalam mempertanyakan struktur realitas yang berada di luar ruang-waktu yang dapat diakses secara langsung oleh manusia. Berdasarkan kerangka tersebut, UFOLOGIC mengembangkan sistem deteksi akustik dan vibrasional yang menggunakan microphone array, sensor infrasonik dan ultrasonik, vibration transducer, serta real-time spectral analysis. Sistem ini membangun acuan dasar akustik (acoustic baseline) lingkungan untuk mengidentifikasi penyimpangan pola gelombang sebagai sinyal anomaly terkuat (candidate anomalous signals). Frekuensi diperlakukan sebagai parameter fisik yang dapat diukur, bukan sebagai asumsi mengenai "frekuensi dimensi lain". Apabila suatu fenomena anomali berinteraksi dengan atmosfer, materi, atau lingkungan local—misalnya, di ruangan galeri ini—interaksi tersebut secara hipotetis dapat menghasilkan jejak akustik atau vibrasional yang dapat dianalisis secara kuantitatif. Dalam konteks fisika kuantum, UFOLOGIC tidak menempatkan mekanika kuantum sebagai bukti keberadaan UAP interdimensional. Fisika kuantum digunakan sebagai kerangka epistemologis untuk mempertanyakan hubungan antara pengukuran, informasi, observasi, dan representasi realitas, sekaligus menunjukkan bahwa pemahaman manusia terhadap fenomena fundamental selalu bergantung pada instrumen, model matema s, dan kerangka interpretasi yang digunakan. Pendekatan lain dari proyek UFOLOGIC ini berfokus pada persepsi manusia. Pengamatan terhadap fenomena yang ambigu tidak pernah sepenuhnya terpisah dari subjek yang mengamatinya. Pengetahuan, pengalaman, memori, bahasa, imajinasi, serta latar belakang budaya membentuk kerangka kognitif yang digunakan untuk menginterpretasikan suatu stimulus. Oleh karena itu, fenomena fisik yang sama dapat menghasilkan representasi dan pemaknaan yang berbeda pada subjek dengan latar belakang yang berbeda. Dalam perspektif antropologis, UAP juga dapat dipahami sebagai fenomena kultural. Narasi mengenai entitas langit, dunia lain, kehidupan non-manusia, dan fenomena langit telah muncul dalam berbagai sistem kosmologi manusia. Dalam masyarakat kontemporer, narasi tersebut berinteraksi dengan astronomi, eksplorasi antariksa, perkembangan teknologi, science fiction (fiksi ilmiah), media, dan budaya populer, sehingga membentuk imajinasi kolektif mengenai kehidupan ekstraterestrial dan kemungkinan realitas di luar pengalaman manusia. Dengan demikian, UFOLOGIC mempertemukan tiga lapisan utama: fenomena fisik, persepsi sensorik, dan konstruksi kultural. Instrumen berfungsi memperoleh data dari lingkungan; sistem analisis mengidentifikasi pola dan anomali; sementara manusia menginterpretasikan hasil tersebut melalui pengetahuan, pengalaman, imajinasi, dan konteks budaya. Ketegangan antara data dan imajinasi, objektivitas dan subjektivitas, anomali dan interpretasi, serta sains dan budaya menjadi bagian fundamental dari proyek. UFOLOGIC tidak bertujuan membuktikan bahwa UAP berasal dari dimensi lain atau parallel universe. Kedua kemungkinan tersebut ditempatkan sebagai kerangka spekulatif dan epistemologis untuk menguji batas antara apa yang dapat diukur, apa yang dapat dipersepsikan, dan apa yang masih berada di luar kemampuan pengetahuan manusia. UFOLOGIC pada akhirnya membangun sebuah antarmuka eksperimental antara ruang-waktu, fenomena anomalous, teknologi sensor, persepsi, dan budaya—sebuah upaya untuk menginvestigasi apakah fenomena yang belum dipahami dapat meninggalkan jejak fisik yang terukur di dalam realitas kita, sekaligus mempertanyakan bagaimana manusia memberikan makna terhadap sesuatu yang berada di luar batas pengetahuannya. (Judul UFOLOGIC diambil dari judul sebuah space novel karya Venzha Christ dan Rezawardhana yang ditulis pada tahun 2019 dalam acara International SETI Conference dan Indonesia UFO Day Declaration oleh Indonesia UFO Network di Yogyakarta)