
2026|Cat Air di Atas Kanvas|100 x 200 cm
Selama lebih dari satu dekade, praktik melukis saya berkembang melalui perjumpaan dengan berbagai lingkungan yang secara perlahan membentuk cara saya melihat dan bekerja. Dunia buku, musik, festival, desain ruang, komunitas, percakapan, serta berbagai kerja kolaboratif tidak hadir sebagai wilayah yang terpisah dari praktik melukis, tetapi menjadi pengalaman yang mengendap dan memperluas cara saya memahami medium tersebut. Karya ini berangkat dari gagasan bahwa seorang seniman tidak pernah terbentuk hanya di dalam studio. Apa yang datang dari luar, baik berupa pengetahuan, relasi, pengalaman maupun ingatan, secara perlahan memasuki ruang batin dan menjadi bagian dari cara seseorang membangun dunia. Karena itu, studio saya hadir sebagai sebuah lanskap pertemuan, bukan sebagai dokumentasi ruang kerja, melainkan sebagai gambaran tentang bagaimana berbagai pengalaman membentuk ruang tempat sebuah praktik artistik terus berlangsung. Dalam karya ini, meja kerja menjadi salah satu pusat aktivitas, dikelilingi buku, kanvas, alat melukis, lampu, perangkat suara, benda sehari hari, serta berbagai tanaman yang perlahan mengambil alih ruang. Jendela membuka pandangan menuju lanskap yang lebih luas, sementara pepohonan, sulur, dan tanaman hutan merembes ke dalam ruang. Unsur unsur tersebut tidak dimaksudkan sebagai simbol yang memiliki arti tunggal, melainkan sebagai bagian dari ekologi ruang yang saling memengaruhi. Tanaman tumbuh melalui celah, akar mencari tempat, cabang menjangkau ruang lain, sementara benda benda kerja menyimpan jejak aktivitas manusia. Studio dengan demikian menjadi semacam lanskap batin, tempat pengalaman tidak sekadar disimpan sebagai ingatan, tetapi berubah menjadi struktur yang membentuk cara berpikir dan merasakan. Ia bekerja seperti ruang antara yang tidak sepenuhnya domestik, tidak sepenuhnya lanskap, dan tidak sepenuhnya milik satu disiplin. Melalui ruang yang imajinatif ini, saya melihat praktik melukis sebagai proses yang terus terbuka terhadap dunia. Pertemuan dengan hal hal di luar dirinya tidak menghilangkan akar melukis, tetapi justru membuatnya memiliki kemungkinan untuk bergerak, bernegosiasi, dan menemukan bentuk baru. Batas antara ruang kerja dan kehidupan, antara pengalaman personal dan pengalaman bersama, serta antara seni dan praktik lain menjadi wilayah yang memungkinkan sesuatu tumbuh. Pengalaman tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang perjalanan saya sebagai seniman, tetapi juga tentang pengalaman yang lebih luas tentang bagaimana ruang, pekerjaan, pertemanan, bacaan, suara, benda, dan lingkungan perlahan membentuk diri kita tanpa selalu kita sadari. Studio menjadi tempat di mana semua itu mengendap dan berubah menjadi ruang. Di dalam ruang tersebut, saya tidak hanya melukis apa yang pernah saya temui, tetapi mencoba memahami bagaimana setiap perjumpaan telah mengubah cara saya melihat dunia.
Bambang Nurdiansyah yang akrab disapa Bamb atau Bembeng, adalah perupa yang berfokus pada seni lukis dan ilustrasi. Ketertarikannya pada dunia gambar membawanya menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Surabaya, lulus pada tahun 2011. Pada tahun yang sama, ia melanjutkan studi di Program Studi Seni Murni, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan meraih gelar Sarjana Seni pada tahun 2018. Dalam praktik keseniannya, Bambang banyak mengeksplorasi hubungan antara sastra, alam, dan pengalaman manusia. Karya-karyanya sering berangkat dari teks-teks sastra yang kemudian diterjemahkan menjadi bahasa visual yang puitis. Tumbuh-tumbuhan kerap hadir sebagai objek utama dalam karyanya, mewakili energi kehidupan, pertumbuhan, serta keterhubungan antara manusia dan alam. Sejak awal kariernya, Bambang aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran seni rupa, baik secara individu maupun kolektif, di berbagai kota di Indonesia. Beberapa partisipasi terbarunya meliputi Art Jakarta (2025), Art Jakarta Papers (2026), Art Garden (2025 dan 2026), serta Takeawat Art #3: Flora: Lessons from Living Thing (2026). Pada tahun 2017, ia meraih Silver Award kategori Emerging Artist dalam ajang UOB Painting of the Year Indonesia, sebuah pencapaian penting yang memperkuat posisinya dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Saat ini, Bambang aktif berkarya melalui Katalika Project dengan fokus pada ilustrasi, desain visual, dan pembuatan sampul buku.