Memuat foto...
Matanesiana

Matanesiana

MERAWAT INGATAN Merawat ingatan adalah menguji kemanusiaan. Dua dekade adalah rentang waktu yang cukup panjang untuk mengendapkan ingatan, tetapi terlalu singkat untuk menyembuhkan luka. Dua puluh tahun lalu, di ranah Sidoarjo, sebuah bencana mengubah lanskap fisik, sosial, dan psikologis ribuan jiwa. Sejumlah kecamatan tenggelam oleh luapan lumpur panas dari perut bumi. Terseretlah berbagai sawah, rumah, sekolah, tempat ibadah, serta ribuan cerita hidup ke dalam keheningan yang pekat. Eskalasi dampak yang begitu besar mengubah peta wilayah dan menaruh garis tebal pada akar kehidupan warga yang tercerabut. Hari ini, seiring berjalannya waktu, gaung tragedi tersebut perlahan surut. Isu yang pernah menorehkan luka kolektif bangsa ini kian samar, terhimpit oleh hiruk pikuk disrupsi zaman dan pendeknya ingatan publik. Tragedi yang belum sepenuhnya usai itu mulai terancam menjadi sekadar angka dan catatan kaki dalam sejarah. Pameran foto ini hadir untuk merawat ingatan yang mulai memudar tersebut. Melalui kolaborasi para penganggit dan pegiat fotografi di Surabaya—Matanesia, Minggu Motret Surabaya, Melihat Bersama, dan Disabilitas Berkarya—puluhan bingkai foto dihadirkan sebagai bentuk refleksi independen. Kehadiran para penganggit foto dari pelbagai latar belakang visual ini menegaskan bahwa fotografi bukan sekadar alat rekam pasif, melainkan cara bertutur yang berdaya, inklusif, dan mendalam. Dengan kinerja lensa yang beragam—sejak yang dokumenter hingga yang kontemporer—pameran ini mengetuk kembali kesadaran kita, bagaimana eksplorasi alam atas nama kemuliaan dan kemajuan tidak boleh lagi berubah menjadi malapetaka kemanusiaan. Para penganggit foto ini meyakini bahwa panggung visual menyimpan tanggung jawab moral—sebuah keberpihakan yang berdiri jernih di sisi warga, di sisi para korban. Menolak lupa adalah mengupayakan kerja budaya tanpa henti. —Mamuk Ismuntoro (Matanesia)

Anggota (1)