2 Seniman & 1 Kelompok Terlibat • 4 Karya Kolaborasi
Jatayu merupakan salah satu makhluk Mitologi berupa burung garuda, mitologi ini berasal dari keyakinan dan kepercayaan Hindu. Sebagai wilayah yang kental dengan akulutrasi, Cirebon sangat erat pula dengan visual-visual berkaitan dengan kepercayaan Hindu, bahkan lebih lanjut secara khas di Cirebon terdapat Mitologi Paksi Naga Liman, yang salah satu unsurnya adalah burung Garuda. Jatayu sering pula dimunculkan dalam bentuk topeng di kesenian Cirebon. Jatayu sendiri dartikan sebagai simbol heroik dan patriotis.
Iftikhar Ahmad Rajwie menyelesaikan pendidikan Sarjana Seni Rupa dengan peminatan Keramik di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian melanjutkan studi Magister Seni Rupa di institusi yang sama. Dalam praktik artistiknya, ia menjadikan keramik sebagai medium utama untuk mengeksplorasi hubungan antara material, budaya, dan pengalaman manusia. Bagi Iftikhar, keramik tidak sekadar dipahami sebagai benda fungsional, melainkan sebagai artefak budaya yang merekam sejarah, pengetahuan, dan dinamika sosial masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, ia memusatkan perhatian pada tradisi keramik Sitiwinangun di Cirebon dengan meneliti posisi, fungsi, serta transformasinya di tengah perubahan zaman. Melalui pendekatan riset dan praktik studio, ia memadukan teknik keramik tradisional dengan bahasa seni kontemporer. Karakter tanah liat, proses pembentukan, hingga jejak pembakaran diolah sebagai metafora yang merefleksikan ingatan budaya, identitas, serta kesinambungan antara masa lalu dan masa kini. Karya-karyanya telah dipresentasikan dalam berbagai pameran nasional, antara lain ARTJOG 2024, Jogja Ceramic Festival, ARTSUBS – Material Ways di Balai Pemuda Surabaya (2025), Observersi di Lawangwangi Creative Space, serta sejumlah pameran seni dan kriya di Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta. Melalui eksplorasi materialitas keramik, Iftikhar membangun dialog antara tradisi dan praktik seni kontemporer.
Sentra Keramik Sitiwinangun merupakan salah satu pusat kerajinan keramik penting di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, yang berada di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, sekitar 15 kilometer dari Kota Cirebon. Tradisi pembuatan keramik di wilayah ini memiliki sejarah panjang yang berkembang sejak abad ke-15, seiring dengan penyebaran Islam dan berkembangnya Kesultanan Cirebon. Keterampilan tersebut diperkenalkan oleh Ki Bagus Pranata atau Buyut Kebagusan, pendiri Desa Sitiwinangun, yang selain menyebarkan agama Islam juga mengajarkan keterampilan membuat keramik sebagai mata pencaharian masyarakat. Keramik Sitiwinangun tumbuh dalam lingkungan budaya Cirebon yang merupakan pertemuan berbagai pengaruh lokal, Timur Tengah, Tiongkok, Eropa, Islam, Hindu, dan Buddha. Perpaduan tersebut melahirkan karakter visual yang khas, terutama melalui ornamen, bentuk patung, serta imajinasi personal para pengrajinnya. Keunikan Sitiwinangun juga terletak pada teknik tradisionalnya. Sebagian pengrajin masih menggunakan teknik tatap-pelandas (paddle and anvil) serta pembakaran tungku ladang (open firing) yang berlangsung sekitar 45 menit. Ketahanan tanah liat terhadap kejut panas membuat keramik ini dikenal sebagai barang “gethak”. Di tengah kekayaan tradisinya, Sitiwinangun menghadapi tantangan regenerasi dan keberlanjutan. Jumlah pengrajin kini diperkirakan hanya sekitar 50 orang, sebagian besar berusia lanjut. Berbagai kolaborasi dengan akademisi dan profesional terus dilakukan untuk menjaga keberlangsungan, mengembangkan, dan memperkenalkan kembali keramik Sitiwinangun kepada masyarakat luas.