2 Seniman Terlibat • 2 Karya Kolaborasi
Set in the middle of a comfortable living room, this installation centers on an unassuming radio--an object once trusted to carry voices across distance and time. From it emerges the sound of three young people, their conversation weaving through different temporal and spatial realities. They speak of what they see, what they lost, and what they still hope for, revealing the contrasts between past, present, and future. Through the intimate act listening, Jejak Akar Bayang Langit invites the audience to inhabit a shared acoustic space where memories, echoes, and imagined futures interwine--reminding us that even the most ordinary domestic settings can hold the hum of unseen histories and yet-unwritten possibilities.
Karya-karya Maharani Mancanagara berangkat dari isu-isu sosial-politik, terutama yang berkaitan dengan sejarah keluarganya. Pengalaman kakeknya sebagai tahanan politik Orde Baru yang diasingkan ke Pulau Buru menjadi pijakan untuk merefleksikan sejarah nasional melalui sudut pandang personal. Selain seni grafis, ia juga berkarya dalam gambar, lukisan, instalasi, buku cerita, dan pertunjukan, menghadirkan narasi yang berlapis dan memperluas pengalaman visual maupun historis. Maharani menempuh pendidikan Seni Grafis di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Pameran karya-karyanya (solo dan duo) antara lain On the Edge I See Yellow, Thailand (2025), Tiba Tanpa Berangkat with Nurrachmat Widyasena, Jakarta, Silent Accolades di Pier-2 Art Center, Kaohsiung, Taiwan (2024), Testimonial Objects di Warin Lab, Art Jakarta (2023), Zero Sum Game di Galeri Soemardja, Bandung (2018), dan Parodi Partikelir di Visma Gallery, Surabaya (2017), Detournement, di Jakarta (2014). Ia juga aktif berpameran bersama di berbagai negara, termasuk Taiwan, Thailand, Australia, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab, serta berpartisipasi dalam Sharjah Biennial 15 (2023) dan Stories Across Rising Lands di Museum MACAN (2021). Pada 2024, ia mengikuti program residensi di Pier-2 Art Center, Taiwan, dan Indian Ocean Triennial Australia; dan DEVFTO Printmaking Institute, Bali. Karyanya dikoleksi oleh Museum and Art Gallery of the Northern Territory, Darwin, Australia.
Nurrachmat Widyasena yang dikenal sebagai Mas Ito lulus dari Jurusan Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Ia mengembangkan praktik artistik yang mengeksplorasi retro-futurisme, mempertemukan realitas dan fantasi melalui narasi yang mengangkat sains, teknologi, dan kritik sosial. Dalam seri Fighter #3, Mas Ito menghadirkan sosok-sosok heroik sebagai metafora bagi ilmuwan dan pelaku teknologi yang menghadapi tekanan birokrasi, kepentingan politik, dan kekuasaan. Melalui figur-figur futuristik yang terluka namun tetap tegak berdiri, ia merefleksikan ketangguhan, pengorbanan, dan harapan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan demi kehidupan yang lebih baik. Sejak 2009, Mas Ito aktif berpameran di Indonesia dan mancanegara (solo dan duo). Pameran tunggalnya antara lain Nostaljik Kritik: Operasi Taimket di Ruci Art, Jakarta, serta After Einstein Rosen Bridge di The Bluecoat, Liverpool (2019), Patriotic Myth of Space Age, Bandung (2013). Sementara itu pameran bersama, antara lain L’Art Pour La Vie, Yogyakarta (2026), Indonesia, Salon Et Cetera, Yogyakarta (2026), Indonesia, Tiba Tanpa Berangkat with Maharani Mancanagara, Indonesia (2025), Space, Time, Movement with Septian Hariyoga, Semarang (2022) dan Detournement with Maharani Mancanagara, Jakarta (2014). Ia meraih Young Artist Award pada ARTJOG 2021 dan menjadi finalis 32 Art Award pada tahun yang sama. Selain itu, ia mengikuti program residensi seniman di Liverpool (2018) dan Kaohsiung, Taiwan (2024), yang memperluas jejaring dan pengembangan praktik artistiknya.