
Yogyakarta • Indonesia
Ajeng Pratiwi menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta. Praktik keseniannya mencakup eksplorasi medium dua dimensi maupun tiga dimensi, dengan perhatian khusus pada relasi antara material, tubuh, dan pengalaman emosional. Karya-karya Ajeng berangkat dari isu sosial serta pengalaman keseharian yang diterjemahkan melalui bahasa visual yang kelam, misterius, dan reflektif. Atmosfer yang intens dan hening, mengundang penonton memasuki ruang narasi yang tidak diungkapkan secara gamblang, tetapi kaya akan lapisan makna. Tubuh menjadi motif utama yang sering dihadirkan secara fragmentaris sebagai metafora atas trauma, penyangkalan, relasi kuasa, dan pergulatan batin manusia. Ajeng mengeksplorasi material seperti kayu, logam, fiberglass, serta benda-benda pabrikan untuk menghadirkan ketegangan emosional dan mendorong kontemplasi atas sisi gelap kemanusiaan. Ajeng juga aktif sebagai ilustrator dan vokalis band metal. Persinggungan antara musik dan seni visual memberi pengaruh kuat terhadap pembentukan atmosfer simbolik dan emosional dalam karyanya. Pameran terbarunya meliputi It Takes a Village (Jakarta, 2026), Dekade (Galeri R.J. Katamsi, 2025), Mereta Enkripsi (Yogyakarta, 2025), Merayakan Ke-Indonesiaan (TMII Jakarta, 2025), Those Who Can't Leave (Yogyakarta, 2024), dan Diskordia Organika (Yogyakarta, 2024). Selain itu, Ajeng juga berpartisipasi dalam Aksi Artsy # 6 di Yogyakarta (2023), Keep on the Fire # 9, Yogyakarta (2023), Jigsaw Falling into Place, Yogyakarta (2022).