
Bandung • Indonesia
Henryette Louise adalah lulusan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Kreativitasnya bersifat multidisipliner dengan memanfaatkan beragam medium seperti gipsum, logam bekas, komponen elektronik, kertas, kanvas, arang, tinta, hingga proses mekanis dan eksperimen bunyi. Bagi Louise, material bukan sekadar sarana berkarya, melainkan titik awal yang membentuk gagasan artistik. Melalui dialog yang intens dengan material, ia mengembangkan karya-karya yang mempertemukan imajinasi, eksplorasi teknis, dan narasi yang terus berkembang selama proses penciptaan. Sumber inspirasi utama Louise berasal dari folklor, mitos, dan kepercayaan masyarakat lokal. Ia memandang cerita rakyat sebagai ruang untuk memahami berbagai realitas yang sulit dijelaskan melalui logika sehari-hari. Dalam karya-karyanya, folklor menjadi medium untuk mengeksplorasi sisi naluriah manusia, ingatan kolektif, serta berbagai lapisan makna yang tersembunyi di balik simbol dan ritual. Melalui proses transformasi material yang eksperimental, ia menerjemahkan esensi cerita-cerita tersebut ke dalam bentuk visual yang puitis sekaligus mengundang refleksi. Karya-karya Louise telah dipresentasikan dalam berbagai pameran tunggal, duo, dan kelompok di Indonesia, termasuk ARTJOG, ARTSUBS, Galeri Salihara, Bandung Contemporary Art Award, Grey Gallery, Lawangwangi Creative Space, dan Jogja National Museum. Ia juga menjalani residensi di Devfto Printmaking Institute pada 2022. Atas konsistensi dan inovasi praktik artistiknya, Louise menerima Gold Award Emerging Artist pada UOB Painting of the Year (2016) serta Honorary Winner pada 8th Bandung Contemporary Art Award (2024), yang semakin mengukuhkan posisinya dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. "Dzikra Afifah (lahir 1998) adalah seniman kontemporer yang berbasis di Bandung, Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Seni di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung pada 2021, dan meraih gelar Magister Seni Rupa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2025. Praktik artistiknya bergerak di persimpangan drawing, instalasi, dan patung, dengan fokus pada eksplorasi hubungan antara pengalaman personal dan kondisi kolektif melalui pendekatan yang berbasis material. Tanah liat menjadi medium yang paling sering ia gunakan, meskipun ia juga bereksperimen dengan berbagai material lain yang berada di antara representasi tubuh dan bentuk-bentuk deformasi. Bagi Dzikra, proses penciptaan merupakan ruang dialog yang memungkinkan material, bentuk, dan pengalaman saling memengaruhi hingga melahirkan narasi yang terbuka terhadap beragam interpretasi. Karya-karyanya mengeksplorasi isu identitas, ingatan, kerentanan, dan transformasi, sekaligus memperlihatkan ketertarikannya pada kemungkinan-kemungkinan baru yang muncul melalui eksplorasi material dan pembacaan konteks sosial. Sejak aktif berpameran pada 2017, Dzikra telah berpartisipasi dalam berbagai pameran penting di Indonesia dan Singapura, di antaranya ARTJOG, Gajah Gallery, Isa Art Gallery, Lawangwangi Creative Space, Neo Gallery Jakarta, Baik Art Gallery, serta Jogja National Museum. Pada 2022, ia menerima Young Artist Award dalam ARTJOG MMXXII: Expanding Awareness, disusul penghargaan Honorary Winner pada 8th Bandung Contemporary Art Award (2024). "

Henryette Louise x Dzikra Afifah

Henryette Louise x Dzikra Afifah

Henryette Louise x Dzikra Afifah

Henryette Louise x Dzikra Afifah

Bandung • Indonesia
Henryette Louise adalah lulusan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Kreativitasnya bersifat multidisipliner dengan memanfaatkan beragam medium seperti gipsum, logam bekas, komponen elektronik, kertas, kanvas, arang, tinta, hingga proses mekanis dan eksperimen bunyi. Bagi Louise, material bukan sekadar sarana berkarya, melainkan titik awal yang membentuk gagasan artistik. Melalui dialog yang intens dengan material, ia mengembangkan karya-karya yang mempertemukan imajinasi, eksplorasi teknis, dan narasi yang terus berkembang selama proses penciptaan. Sumber inspirasi utama Louise berasal dari folklor, mitos, dan kepercayaan masyarakat lokal. Ia memandang cerita rakyat sebagai ruang untuk memahami berbagai realitas yang sulit dijelaskan melalui logika sehari-hari. Dalam karya-karyanya, folklor menjadi medium untuk mengeksplorasi sisi naluriah manusia, ingatan kolektif, serta berbagai lapisan makna yang tersembunyi di balik simbol dan ritual. Melalui proses transformasi material yang eksperimental, ia menerjemahkan esensi cerita-cerita tersebut ke dalam bentuk visual yang puitis sekaligus mengundang refleksi. Karya-karya Louise telah dipresentasikan dalam berbagai pameran tunggal, duo, dan kelompok di Indonesia, termasuk ARTJOG, ARTSUBS, Galeri Salihara, Bandung Contemporary Art Award, Grey Gallery, Lawangwangi Creative Space, dan Jogja National Museum. Ia juga menjalani residensi di Devfto Printmaking Institute pada 2022. Atas konsistensi dan inovasi praktik artistiknya, Louise menerima Gold Award Emerging Artist pada UOB Painting of the Year (2016) serta Honorary Winner pada 8th Bandung Contemporary Art Award (2024), yang semakin mengukuhkan posisinya dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. "Dzikra Afifah (lahir 1998) adalah seniman kontemporer yang berbasis di Bandung, Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Seni di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung pada 2021, dan meraih gelar Magister Seni Rupa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2025. Praktik artistiknya bergerak di persimpangan drawing, instalasi, dan patung, dengan fokus pada eksplorasi hubungan antara pengalaman personal dan kondisi kolektif melalui pendekatan yang berbasis material. Tanah liat menjadi medium yang paling sering ia gunakan, meskipun ia juga bereksperimen dengan berbagai material lain yang berada di antara representasi tubuh dan bentuk-bentuk deformasi. Bagi Dzikra, proses penciptaan merupakan ruang dialog yang memungkinkan material, bentuk, dan pengalaman saling memengaruhi hingga melahirkan narasi yang terbuka terhadap beragam interpretasi. Karya-karyanya mengeksplorasi isu identitas, ingatan, kerentanan, dan transformasi, sekaligus memperlihatkan ketertarikannya pada kemungkinan-kemungkinan baru yang muncul melalui eksplorasi material dan pembacaan konteks sosial. Sejak aktif berpameran pada 2017, Dzikra telah berpartisipasi dalam berbagai pameran penting di Indonesia dan Singapura, di antaranya ARTJOG, Gajah Gallery, Isa Art Gallery, Lawangwangi Creative Space, Neo Gallery Jakarta, Baik Art Gallery, serta Jogja National Museum. Pada 2022, ia menerima Young Artist Award dalam ARTJOG MMXXII: Expanding Awareness, disusul penghargaan Honorary Winner pada 8th Bandung Contemporary Art Award (2024). "

Henryette Louise x Dzikra Afifah

Henryette Louise x Dzikra Afifah

Henryette Louise x Dzikra Afifah

Henryette Louise x Dzikra Afifah