
Indonesia
Sentra Keramik Sitiwinangun merupakan salah satu pusat kerajinan keramik penting di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, yang berada di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, sekitar 15 kilometer dari Kota Cirebon. Tradisi pembuatan keramik di wilayah ini memiliki sejarah panjang yang berkembang sejak abad ke-15, seiring dengan penyebaran Islam dan berkembangnya Kesultanan Cirebon. Keterampilan tersebut diperkenalkan oleh Ki Bagus Pranata atau Buyut Kebagusan, pendiri Desa Sitiwinangun, yang selain menyebarkan agama Islam juga mengajarkan keterampilan membuat keramik sebagai mata pencaharian masyarakat. Keramik Sitiwinangun tumbuh dalam lingkungan budaya Cirebon yang merupakan pertemuan berbagai pengaruh lokal, Timur Tengah, Tiongkok, Eropa, Islam, Hindu, dan Buddha. Perpaduan tersebut melahirkan karakter visual yang khas, terutama melalui ornamen, bentuk patung, serta imajinasi personal para pengrajinnya. Keunikan Sitiwinangun juga terletak pada teknik tradisionalnya. Sebagian pengrajin masih menggunakan teknik tatap-pelandas (paddle and anvil) serta pembakaran tungku ladang (open firing) yang berlangsung sekitar 45 menit. Ketahanan tanah liat terhadap kejut panas membuat keramik ini dikenal sebagai barang “gethak”. Di tengah kekayaan tradisinya, Sitiwinangun menghadapi tantangan regenerasi dan keberlanjutan. Jumlah pengrajin kini diperkirakan hanya sekitar 50 orang, sebagian besar berusia lanjut. Berbagai kolaborasi dengan akademisi dan profesional terus dilakukan untuk menjaga keberlangsungan, mengembangkan, dan memperkenalkan kembali keramik Sitiwinangun kepada masyarakat luas.
Karya dari seniman ini sedang dalam proses pengumpulan