Made Kenak Dwi Adnyana

Made Kenak Dwi Adnyana

Indonesia

Joko Avianto memanfaatkan bambu sebagai medium artistik sekaligus refleksi atas hubungan manusia, alam, dan budaya. Ia menyelesaikan pendidikan Seni Patung di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian melanjutkan studi Magister di institusi yang sama. Saat ini, Joko mengajar di Program Studi Seni Patung, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Sejak memperkenalkan pameran /'bæmbuw/ di Selasar Sunaryo Art Space pada 2003, Joko mengembangkan teknik “modul bambu pecah”, yang memungkinkannya membangun struktur bambu berskala monumental tanpa membelah batang bambu sepenuhnya. Karyanya menyoroti penyusutan hutan bambu, hilangnya budaya bambu, berkurangnya kreativitas para perajin, dan dampak industrialisasi terhadap keberagaman budaya Indonesia. Pameran tunggalnya meliputi S.A.M.O. (Social Activator Mobile Object) dan Astakona (2001), Embodied di Galeri Ruang Dini, Bandung (2023), serta Embodied: Perception of Objects di Red Base Gallery, Yogyakarta (2024). Karyanya juga tampil dalam berbagai pameran bergengsi, seperti Art Central Hong Kong (2026), Sydney Contemporary (2025), ARTJOG, Yokohama Triennale, dan Frankfurter Kunstverein. Selain berpameran, Joko menghasilkan berbagai karya komisi berskala besar, termasuk instalasi bambu untuk Asian Games 2018 di Bundaran HI Jakarta. Joko Avianto menjadikan bambu sebagai simbol ketahanan ekologis, memori kolektif, dan identitas budaya Indonesia di tengah perubahan zaman.

Karya

Data Karya Belum Tersedia

Karya dari seniman ini sedang dalam proses pengumpulan