
Surabaya • Indonesia
Thalia Halim mengembangkan praktik seninya melalui eksplorasi pengalaman personal, observasi keseharian, dan interaksi langsung dengan ruang sosial. Fokus utama praktik artistiknya adalah live event painting, sebuah pendekatan yang menjadikan proses melukis secara langsung sebagai medium untuk menangkap, merespons, dan menerjemahkan momen secara real time ke dalam bahasa visual yang personal dan emosional. Sejak 2024, Thalia aktif mengerjakan live painting untuk berbagai acara di sejumlah kota di Indonesia, mulai dari pernikahan dan pertunangan hingga kegiatan korporasi, institusi budaya, dan industri kreatif. Ia telah berkolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya Billstone Indonesia, Laura Mercier Indonesia, Google Indonesia melalui YouTube Works Awards, serta Institut Français Indonesia dalam program Le Goût de France. Selain berkarya melalui live event painting, Thalia juga aktif mengikuti pameran seni dan proyek kolaboratif lintas komunitas. Karyanya telah dipresentasikan dalam pameran Canvass of Kindness, ASHTA District 8 (2024), Pasar Seni Lukis Indonesia di Jatim Expo (2024), Jejak Waktu Dalam Goresan di Hotel Majapahit (2024). Tahun berikutnya, pameran lukisannya adalah Hujan Warna di Galeri Prabangkara (2025), Stovit Art Unair Surabaya (2025), Terbitlah Terang di Balai Pemuda Surabaya (2025), Merindu Jiwa di Balai Pemuda Surabaya (2025), dan Art is All Around Jogjakarta (2026). "Samuel Alexander berkarya di persimpangan kecerdasan artifisial (AI), robotika, dan dunia fisik melalui pengembangan sistem embedded machine learning yang terintegrasi secara menyeluruh, mulai dari perancangan PCB kustom, komponen hasil 3D printing, firmware, hingga computer vision yang berjalan langsung pada perangkat atau on-device. Karya-karyanya lahir dari pertemuan dua persoalan yang tampaknya tidak berkaitan—mekanis dan perseptual—yang kemudian saling memengaruhi hingga membentuk pengalaman interaktif baru. Bunga yang mengikuti gerak pengunjung, sepeda yang memantau lalu lintas di belakangnya, atau tempat sampah yang merespons suara menjadi contoh bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk membangun hubungan yang lebih intuitif antara manusia, mesin, dan ruang. Bagi Samuel, semakin jauh jarak antar disiplin yang dipadukan, semakin menarik kemungkinan artistik dan teknologis yang dapat dihasilkan. Selama empat tahun ia menjadi anggota Edge Impulse Expert Network, sebuah program teknis berbasis undangan yang dijalankan oleh Edge Impulse, anak perusahaan Qualcomm. Sebagian besar karyanya dirilis sebagai open source dan telah dimuat dalam buku AI at the Edge (O'Reilly Media, 2023), serta meraih Protolabs Grant pada Hackaday Prize 2023. Beberapa desainnya juga dikembangkan lebih lanjut sebagai dasar penelitian akademik di berbagai negara. Sebelumnya, ia turut mendirikan Samytronix, sebuah inisiatif pendidikan STEM yang memperoleh pengakuan dari UNESCO. "

Surabaya • Indonesia
Thalia Halim mengembangkan praktik seninya melalui eksplorasi pengalaman personal, observasi keseharian, dan interaksi langsung dengan ruang sosial. Fokus utama praktik artistiknya adalah live event painting, sebuah pendekatan yang menjadikan proses melukis secara langsung sebagai medium untuk menangkap, merespons, dan menerjemahkan momen secara real time ke dalam bahasa visual yang personal dan emosional. Sejak 2024, Thalia aktif mengerjakan live painting untuk berbagai acara di sejumlah kota di Indonesia, mulai dari pernikahan dan pertunangan hingga kegiatan korporasi, institusi budaya, dan industri kreatif. Ia telah berkolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya Billstone Indonesia, Laura Mercier Indonesia, Google Indonesia melalui YouTube Works Awards, serta Institut Français Indonesia dalam program Le Goût de France. Selain berkarya melalui live event painting, Thalia juga aktif mengikuti pameran seni dan proyek kolaboratif lintas komunitas. Karyanya telah dipresentasikan dalam pameran Canvass of Kindness, ASHTA District 8 (2024), Pasar Seni Lukis Indonesia di Jatim Expo (2024), Jejak Waktu Dalam Goresan di Hotel Majapahit (2024). Tahun berikutnya, pameran lukisannya adalah Hujan Warna di Galeri Prabangkara (2025), Stovit Art Unair Surabaya (2025), Terbitlah Terang di Balai Pemuda Surabaya (2025), Merindu Jiwa di Balai Pemuda Surabaya (2025), dan Art is All Around Jogjakarta (2026). "Samuel Alexander berkarya di persimpangan kecerdasan artifisial (AI), robotika, dan dunia fisik melalui pengembangan sistem embedded machine learning yang terintegrasi secara menyeluruh, mulai dari perancangan PCB kustom, komponen hasil 3D printing, firmware, hingga computer vision yang berjalan langsung pada perangkat atau on-device. Karya-karyanya lahir dari pertemuan dua persoalan yang tampaknya tidak berkaitan—mekanis dan perseptual—yang kemudian saling memengaruhi hingga membentuk pengalaman interaktif baru. Bunga yang mengikuti gerak pengunjung, sepeda yang memantau lalu lintas di belakangnya, atau tempat sampah yang merespons suara menjadi contoh bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk membangun hubungan yang lebih intuitif antara manusia, mesin, dan ruang. Bagi Samuel, semakin jauh jarak antar disiplin yang dipadukan, semakin menarik kemungkinan artistik dan teknologis yang dapat dihasilkan. Selama empat tahun ia menjadi anggota Edge Impulse Expert Network, sebuah program teknis berbasis undangan yang dijalankan oleh Edge Impulse, anak perusahaan Qualcomm. Sebagian besar karyanya dirilis sebagai open source dan telah dimuat dalam buku AI at the Edge (O'Reilly Media, 2023), serta meraih Protolabs Grant pada Hackaday Prize 2023. Beberapa desainnya juga dikembangkan lebih lanjut sebagai dasar penelitian akademik di berbagai negara. Sebelumnya, ia turut mendirikan Samytronix, sebuah inisiatif pendidikan STEM yang memperoleh pengakuan dari UNESCO. "