
2026|Resin, Bubuk Pewarna Resin, Besi Galvanis, Baja, Sling Baja, dan Cat NC|200 x 230 x 30 cm
Karya ini berangkat dari kegelisahan saya terhadap ambiguitas antara yang nyata dan yang direkayasa—sebuah ruang liminal di mana persepsi terus digoyahkan. Saya menghadirkan objek yang tampak familiar: balon merah yang melayang, balok beton yang berat, serta tanaman kecil yang tumbuh di tengahnya. Namun, seluruh elemen tersebut bukanlah material sebagaimana yang kita kenal. Balon tidak lagi ringan dan rapuh, beton tidak lagi padat dan struktural, dan tanaman tidak lagi hidup secara biologis. Semuanya telah saya rekonstruksi menjadi objek imitasi berbahan resin dan material sintetis lainnya. Transformasi material ini menjadi titik berangkat utama dalam praktik saya: ketika sesuatu yang tampak “nyata” ternyata adalah simulasi, di manakah batas realitas itu berada? Balok beton yang hangus, secara visual menyiratkan kehancuran, beban, dan sejarah—namun sebagai imitasi, ia kehilangan bobot ontologisnya sebagai “bekas peristiwa.” Sementara itu, tanaman yang biasanya menjadi simbol kehidupan dan harapan, saya hadirkan sebagai representasi yang beku, tanpa proses tumbuh yang sesungguhnya. Balon merah, yang identik dengan keriangan atau kerapuhan, kini menjadi objek statis yang menyangga ilusi bobot yang berat di dalam ruang. Ketegangan muncul dari kontradiksi ini: bentuk-bentuk yang dikenali bertabrakan dengan kenyataan material dan sifat nya. Saya menghadirkan pengalaman visual yang meyakinkan, tetapi secara sifat benda nya diragukan. Apa yang dilihat terasa nyata, namun tidak memiliki “kebenaran” material. Melalui karya ini, muncul pertanyaan: apakah realitas ditentukan oleh apa yang kita lihat, atau oleh apa yang sebenarnya ada? Karya ini bekerja sebagai simulacra—sebuah representasi tanpa referensi yang pasti—di mana realitas tidak lagi menjadi sesuatu yang absolut, melainkan hasil konstruksi persepsi. Dengan demikian, karya ini tidak hanya menghadirkan objek, tetapi juga membangun kondisi psikologis: ruang ketidakpastian, di mana terus menegosiasikan antara rasa percaya dan meragukan. Pada karya ini saya tidak berusaha menawarkan jawaban, melainkan membuka celah refleksi: mungkin batas antara realita dan simulasi bukanlah garis yang tegas, melainkan wilayah kabur yang terus bergeser—tergantung pada bagaimana kita melihat, mempercayai, dan memaknai dunia di sekitar kita.
Ridho Scoot menyelesaikan pendidikan Sarjana Seni Rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Sejak aktif berpameran pada 2014, Ridho telah berpartisipasi dalam berbagai pameran di Indonesia maupun mancanegara, termasuk Art Jakarta, Art Jakarta Gardens, Jogja Art Agenda, Nandur Srawung, serta pameran internasional di Gajah Gallery, Singapura. Pada 2025 ia menggelar pameran tunggal perdananya bertajuk Ambang Ruang Riang di Kiniko Art, Yogyakarta. Tahun 2026, ia berpartisipasi dalam pameran bersama Post-Quintessence Di NING ART SPACE Yogyakarta. Kemudian beberapa pameran yang diikutinya di tahun 2024 adalah BALISTIK24 di Jogja Gallery Yogyakarta, Art Jakarta Gardens Facade di Hutan Kota By Plataran, Minisphere” di Getback Parlour Jakarta Selatan dan Warta projec #2 “ Kolom” di sarang building yogyakarta. Praktik artistik Ridho berangkat dari gagasan hiperrealitas yang diperkenalkan Jean Baudrillard, yakni kondisi ketika simulasi dan representasi tidak lagi merefleksikan kenyataan, melainkan menggantikannya. Baginya, kehidupan kontemporer dipenuhi citra, informasi, dan narasi yang terus diproduksi hingga batas antara fakta dan ilusi menjadi semakin kabur. Melalui karya-karyanya, ia mengajak penonton mempertanyakan kembali apa yang dianggap nyata di tengah dominasi budaya visual dan media digital. Dalam proses berkarya, Ridho memanfaatkan material, objek sehari-hari, dan bentuk-bentuk visual yang mengalami transformasi sebagai metafora bagi dunia yang dipenuhi simulasi.